Cerpen Amatiran - Buku Bisu Jalanan

14.00

Buku Bisu Jalanan
Oleh Reza Pahlevi Wirananta

*Juara 1 Cerpen Kemerdekaan oleh Artos Mall
Matahari mulai pulang dari pekerjaanya selama seharian, beristirahat, berganti jadwal dengan rembulan. Jalan Soekarno-Hatta selalu pada kebiasaanya, yaitu tidak menunjukkan kelancaran.Udara dalam bis kota perjalanan pulangku dipenuhi kepulan asap lelah, yang membuat sesak paru-paru. Beberapa musisi pentas bergantian, terkadang disisipi dengan guyonan sehingga aku tertawa keras mengganggu penumpang lain. Hiburan pengamen, yang selalu membuat waktu perjalananku memudarkan lelahnya raga.
            Ban angkutan kota berputar hingga pada perhentianku, pada pasar kecil desa Cepiring. Perpisahan dengan bis yang menampungku dan mengantarkanku setengah jam dari tempat kerjaku membawa langkah kakiku dalam suatu toko buku tua yang sudah usang dan rapuh dindingnya. Jangan menilai buku dari sampulnya, toko kecil ini membawa berjuta ilmu di dalamnya, yang tak mudah ditemui di toko buku lainnya di kota kecil Kendal ini.
            Saat langkahku baru berpapasan dengan muka toko senyum ramah pria setengah baya menyapa.
            “Habis gajian pasti ya, Hir?”
            Aku mengangkat jempol dan menunjukannya padanya, diiringi sedikit tawa yang kugantungkan pada wajah lelahku.
            “Pesan buku apa saja sekarang? Khusus pembeli setia tak kasih diskon sekarang.”
            Tertawa aku. Rasa syukur muncul dalam hati, sembari menunjuk buku-buku yang sudah ku incar sejak sebulan lalu.
            “Lumayan, sekarang bisa membeli lebih banyak dari biasanya.”  Gumamku dalam pikiran.
            Seusai transaksi jual beli terjadi, aku dan buku-buku baruku meninggalkan toko buku Sinar Jaya, milik Pak Sulaiman atau Pak Sule biasa aku memanggilnya. Entah apa yang ku mimpikan dalam waktu malam tadi, pekerjaan dalam bengkel tak seberat lain hari biasanya. Dan buku yang ku beli bisa lebih banyak karena diskon. Aku terus melamunkan keberuntunganku ini dan bersyukur dalam menapaki jalan berpulang dan menutup hari jumat lumayan lelahku ini.
***
            Dalam gelap menuju terang, suara kokok ayam terdengar lantang dan sinar yang surya mengintip sedikit terik. Aku yang sudah melaksanakan kewajiban shubuhan bertemu dengan sepiring paket nasi tempe orek telor, teh anget berembun, dan beberapa tetangga yang kukenal baik dalam satu atap warung. Aku dan beberapa warga lokal mengisi tubuh dengan beberapa energi yang cukup agar menjalankan hari dengan optimal. Sembari mengisi energi, terjadi perbincangan ringan dengan tema “Aku”.
            “Bagaimana bisnis mengajarmu, Hir?” tanya seorang tukang becak yang kukenal sejak aku masih kecil.
            “Alhamdulillah, sae-sae mawon, Om.”
            “Sudah habis berapa juta buat membeli buku, Hir?” ucap Bu Sur penjual nasi rames dengan sedikit candaan.
            “Haha tidak banyak kok, Buk.”
            “Uangmu dari hasil kerjamu itu harusnya kamu kumpulin buat modal nikah, modal bangun rumah nantinya. Paling gak nanti ada yang ngurusin kamu.”
            “Iya, Hir. Ibuk juga kasian lihat kamu dengan kekurangan harus kerja.”
            “Istrimu nanti bisa ngrawat ibumu juga bantu kamu cari uang dengan gantiin ibumu jualan sayur.” Saut Pak Haji Wahid, sedang sarapan memasuki perbincangan.
            “Iya.” Jawabku singkat dengan terpaksa.
            Perbincangan tentang gajiku yang ku rubah menjadi buku sering ku temui dalam kampung halamanku ini. Aku tidak pernah jengkel dengan semua ini, toh maksud mereka semua juga baik. Namun tidak juga pernah aku ikuti karena aku mempunyai tekad sendiri yang membuat kebiasaanku menghabiskan gaji terus ku lakukan. Waktu yang terus melewatiku setiap perbincangan tentangku seperti rutinitas, namun hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
            Seusai seluruh isi makanan turun, aku menyalakan rokok yang menjadi rutinitas wajibku setelah makan. Kepulan-kepulan beterbangan mengiringi semangatku menjalani hari. Dengan sepeda berselimut karat aku menuju base camp  tempat aku berkumpul menikmati hari libur. Bersama beberapa remaja dan sedikit orang seumuranku dalam rumah kosong tak berpenghuni tak jauh dari tempat tinggalku. Seperti biasa, sesampai di tempat kopi, rokok, dan perbincangan aku lakukan dengan beberapa teman yang sudah sampai sana terlebih dahulu. Setelah beberapa saat tidur siang adalah pilihan yang pas.
***
            “Kamu nonton tv terus, sekali kali keluar ikut sepak bola sama warga kampung.” Ujar seorang pria beruban.
            “Aku lebih suka nonton tv kok, Pak.”
            “Apa? Bisa kau ulangi?”
            “Aku lebih suka nonton tv kok, Pak.” Ucapku pada Bapakku dengan nada lebih keras, karena aku yang memang dilahirkan bisu dan ayahku yang sudah mulai tua, mulai tumpul pendengarannya.
            “Haha Bapak mengerti kok, Bapak gak mau maksa kamu. Bapak suka lihat kamu serius nonton tv, apalagi nonton berita, acara kesukaanmu.” Dengan nada bercanda.
            “Iya Pak.” Jawabku singkat, serius menonton berita.
            “Beberapa punk dan anak jalanan tertangkap sedang pesta minuman keras di Blora! Ketika hendak diamankan oleh aparat beberapa memberontak dan dengan sengaja memukul wajah polisi!”
            “Sekarang Bapak tanya, dari acara yang kamu lihat barusan yang salah siapa?”
            “Anak-anak jalanan, Pak.”
            “Kalau menurut Bapak, dari kejadian tersebut tidak ada yang salah.”
            “Lho? Kok saged ngoten, Pak?”
            “Orang yang hidup di jalanan seperti pengemis, pengamen, dan punk sebenarnya hanya melakukan apa yang menurut mereka benar. Mereka hanya kurang wawasan tentang dunia apa yang benar, apa yang salah.”
            Aku memandangi, mendengarkan, memahami dengan pelan-pelan. Untuk anak baru lulus SD apa yang diucapkan Bapakku memang sulit untuk dicerna.
            “Bapak tahu kamu tidak cocok dalam olah raga, tapi Bapak tidak kecewa. Bapak malah senang kamu punya hobi unik, yaitu menonton berita. Suatu saat, Bapak harap kamu bisa berguna bagi bangsa dan sesama.”
            “Caranya, Pak?”
            “Kamu bilang apa? Celananya?”
            “Caranya, Pak?” dengan nada keras akibat penasaran.
            “Haha Bapak sebenarnya denger kok, jangan keras-keras, Hir. Nanti Bapak tambah budek.”
            Wajahku memerah malu, sedikit jengkel dengan candaan Bapak. Namun entah kenapa aku selalu tertawa dengan candaan Bapakku. Mungkin karena wajahnya yang nampak serius, tak cocok bercanda.
            “Ya nanti kamu cari tahu sendiri, mungkin nanti kamu bisa mengenalkan anak jalanan beberapa buku, atau nanti kamu bisa menjadi anggota dewan. Tapi jangan suka tidur saat rapat ya! Hahaha.” Canda Bapakku.
            Kejadian beberapa hari lalu sangat mengubahku. Aku mengubah cita-citaku menjadi astronot berpaling menjadi seorang guru. Guru yang mampu mengantar berbagai macam anak menjadi sukses. Dan sore menuju petang ini, kegelapan yang datang juga mendatangkan pedih bagiku dan ibuku. Dalam acara berita biasa aku tonton, tersiar bahwa “Terjadi kasus kecelakaan di Cepiring. Seorang warga setengah baya bernama Bapak Hidayat  menjadi satu-satunya korban yang meninggal dalam kejadian ini.”
            Aku sontak berteriak layaknya orang gila. Dalam kantung mataku tak mampu lagi menahan air mata kesedihan. Semua mengalir dalam waktu yang lama. Ibuku juga nampak lemas dan menangis, namun dalam waktu yang lebih sedikit daripada tangisanku.
            “Bapak! Bapak! Bapak!” teriakku lantang, penuh emosi.
            “Mas bangun mas!” seseorang berkata padaku, dengan menggoyangkan tubuhku yang lemas. Aku terbangun dengan terkejut.
            “Ah, aku bermimpi lagi. Mungkin akan ada puluhan mimpi yang sama yang akan aku temui. Yang penting sekarang aku harus mengajar anak-anak yang sudah kumpul disini.” Gumamku dalam hati.
***
            Kegiatan belajar mengajar menghangatkan rumah kosong ini. Beberapa melanjutkan belajar membaca, beberapa sudah mampu membaca, sekarang membaca buku lama dan yang baru aku beli di Toko Sinar Jaya kemaren. Wajah polos mereka membuat senang dan merontokkan rasa lelahku mengajar. Mereka nampak haus akan ilmu, yang kadang lebih haus daripada mereka yang mampu duduk dan belajar di bangku sekolah. Pelajaran tentang menghitung barusan membuat beberapa tidak membaca, namun mengerjakan soal-soal latihan anak SD yang terdapat dalam lemari rumah kosong itu.
            “Bagaimana buku barunya?”
            “Bagus Mas Tohir!” seru mereka dengan semangat. Beberapa tidak menjawab karena kadang tidak paham dengan lidah bisu yang aku lontarkan.
            Dalam suasana istirahat mengajar seperti ini kadang aku berteman dengan lamunan. “kapan aku menikah?”, “kapan ibuku ada yang ngurus?”, “bagaimana aku bisa memperbaiki atap rapuh yang selalu dikunjungi air ketika hujan tiba?”. Pertanyaan-pertanyaan itu sering memaksaku berhenti merawat anak-anak jalanan ini. Terlebih masukan-masukan tetangga yang sudah menjadi rutinitasku merayuku untuk menabung lalu memiliki seorang istri.
            Namun ketika aku mengingat mimpiku tentang almarhum Bapakku yang telah meninggal 15 tahun lalu, aku selalu ingin membesarkan keluarga anak jalanan ini. “Berguna untuk bangsa dan sesama.” Prinsip itu yang menjadi motivasiku dalam melangkah, meski terbatas oleh penghasilanku dari bengkel yang sedikit, oleh fisikku yang tak seperti manusia pada umumnya, dan juga oleh rasa malasku sendiri. Pro-kontra antara hati dan pikiran memainkan tekadku dalam menjembatani anak-anak jalanan ini meraih cita-cita mereka.
            “Alhamdulillah akhirnya aku sudah menjadi guru. Meski bukan guru formal di dalam sekolah, mengajar dengan nyaman dan berseragam, aku bangga menjadi guru jalanan. Guru bagi pengamen, pengemis, dan kaum marjinal yang tidak dipelihara oleh Negara. Semangat mereka mencari nafkah akan selalu meningkatkan semangatku dalam membantu mereka. Semoga dengan adanya ini, aku tidak melupakan ibuku yang seorang diri membesarkan aku. Kelak aku akan memberikan menantu yang siap menerima kita apa adanya, Bu.”


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images