Cerpen Amatiran - Perihal Bagian Wanita yang Enak Dipandang

04.58


Perihal Bagian Wanita yang Enak Dipandang
Oleh Reza Pahlevi Wirananta

            Di tengah malam Jampes melamun begitu panjang seperti sebuah petapaan beberapa biksu di gunung maupun di tengah hutan. Begitu khusyuk, sehingga nyamuk-nyamuk pun sudah bosan menghisap darahnya dan pulang ke rumahnya dengan begitu puas dengan perut membulat. Hingga pada suatu ketika, ia tersenyum puas. Ia mencapai sebuah kesimpulan. Jampes menyadari ada bagian dari kekasihnya yang membuat begitu cantik, melebihi beberapa wanita lainnya.
            Jampes segera mencetak sebuah lembar foto berukuran A4 dan ditempelkannya di tubuhku. Ia mengusap-usap tubuhku karena tujuannya dalam perenungan sejam lebih akhirnya tercapai. Aku memilih berdiam, merasa tak sopan mengganggu tuanku sedang berbunga-bunga. “Begitu beruntung aku memiliki sepasang mata yang paling indah se Kecamatan.” Sambil memandangi foto, ia meluapkannya dengan menciumi foto itu. Kalau boleh menduga, bagian yang diciumnya adalah mata dari Evi, kekasihnya yang menjadi cinta pertama baginya.
            Jampes mulai sering memandangi mata Evi ketika gadis mungil itu bermain ke rumahnya. Benih-benih cinta tercium harum seisi ruangan. Aku hanya di pojokan, terdiam menikmati pemandangan seorang tuan yang mulai beranjak dewasa begitu lucu. Mata Evi mampu mengeluarkan mantra yang membuat Jampes semakin terperosok dalam godaan setan. Kegiatan-kegiatan sepasang remaja mulai tak karuan terjadi. Jampes memulai ciuman pertamanya di ruangan ini. Semakin sering waktu luang, semakin sering ciuman itu terjadi. Hingga terjadilah hubungan dimana tangannya menjelajah nakal, nafas keduanya tersengal-sengal, dan keringat bercucuran. Begitu berulang sampai berbulan-bulan. Aku melihatnya dengan jelas, ketika hubungan itu terjadi, hal yang paling nikmat buat Jampes adalah menciumi kedua mata yang paling indah se Kecamatan itu.
            Kebahagiaan yang telah didapatkan Jampes membuatnya selalu tersenyum ketika beranjak dari ruangan ini, berpakaian rapi, dan menuju ke sekolah dengan begitu tampannya. Dari beberapa barang yang ia berikan kepadaku, aku dapat menyimpulkan sepasang mata Evi mampu membuatnya menjadi seseorang yang disegani di sekolahnya. Aku ikut senang dengan pencapaian tuanku ini. Banyak lembaran kertas menunjukkan ia sering menjadi bintang di kelasnya.
            Justru hanya karena sepasang mata ia menuju sebuah kehampaan besar ketika Evi seringkali tak sependapat dengan tuanku. Memang sering terjadi perdebatan dan umpatan akhir-akhir ini. Jampes runtuh betul semangatnya ketika perpisahan dengan cinta pertama akhirnya benar-benar terjadi. Ia mulai sering melamun. Tak hanya prestasi turun, berangkat menuju sekolah saja sudah tak diinginkannya. Ia lebih memilih memandangi foto Evi dan menciumi bagian matanya. Terkadang ia sering memukul kencang tubuhku dengan emosi tak karuan. Kondisi labil remaja yang kehilangan pacarnya nampak begitu gila disini. Karena memang hanya bisa diam saja, aku menerimanya dengan ikut berduka atas putusnya cinta pertama tuan.
***
            Jampes telah menjadi pria yang benar-benar gagal hingga kematian kedua orang tuanya dalam kecelakaan. Setelah sekolah sengaja menendangnya karena tak taat aturan, ia hanya bisa bergantung pada harta kedua orang tuanya yang memang pekerja. Luntang-lantung, tak mau ikut berkumpul pada masyarakat sekitar rumah dan lebih memilih berdiam diri sekedar tiduran atau membaca apa saja yang dia bisa baca. Tampilannya tak lebih baik dari pengamen jalanan. Ketika banyak isu yang mencibir penampilan itu, ia dapat dengan teguh pada pendirian kegembelannya. Hingga kedua orang tuanya meninggal, mau orang terdekat maupun orang yang menjauhinya bakal terketuk juga hatinya untuk berkunjung dan berbela sungkawa. Yang aneh dari sebuah pengajian kematian orang, keluarga yang biasanya menangis terharu malah tak nampak di raut wajahnya. Jampes tetap pada tampilannya yang tak terawat. Dan ketika acara dimulai ia malah memilih berdiam di ruangan ini, bersandar pada tubuhku, dan tak berduka. Toh mungkin apa yang harus ia tangisi, semua kesedihan bakal terus hadir semenjak semangat hidupnya, Evi, meninggalkannya. “Aku harusnya senang, karena dapat warisan yang lumayan banyak.”
            Bagaimanapun orang yang selalu dekat dan baik kepada kita, ketika pergi akan menimbulkan kesedihan meskipun berkeras hati menutupinya. Pada suatu malam ia tiba-tiba berubah layaknya orang yang begitu dalam sayangnya kepada keluarganya. Air yang disimpan sepasang matanya tumpah dahsyat dan melukai kantung matanya hingga lebam kemerahan. Ia kembali pada kebiasaan lamanya, memukuli tubuhku hingga amarahnya terpuaskan. Tangan dan kepalanya bocor, air kemerahan keluar menetes hingga mengotori tubuhku. Sama seperti ketika berpisah dengan cinta pertamanya, setelah puas menyiksa ia mengusap-usap tubuhku seperti seseorang yang sangat berharga. Meski hanya terdiam, aku merasakan kesedihannya pada cerita-cerita berharga yang ia ungkapkan tentang ayah dan ibunya. Malam yang panjang itu berakhir ketika ia tertidur duduk tersandar pada tubuhku. Mungkin arwah ayah dan ibunya sudah selesai memberikan pelajaran penting pada pikirannya dan kini mereka terbang ke surga.
            Alangkah terharunya ketika Jampes terbangun ia sudah berubah menjadi seseorang yang baru. Sesaat aku melihatnya ia memandangi foto Evi cukup lama, merenung, dan akhirnya tersenyum. Senyum yang begitu menyenangkan, sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. “Akhirnya aku tau apa yang harus dilakukan.” Kata Jampes.
             Entah setan yang ada di tubuhnya benar-benar pergi atau ada hikmah yang diturunkan Tuhan padanya, akhirnya ia kembali menjadi seorang Jampes yang sangat bersemangat. Ia mulai merapikan penampilannya. Rambutnya yang mulai gimbal ia cukur seperti seorang artis korea. Baunya yang merusak hidung mulai hilang dan berubah menjadi harum mewangi menggoda lawan jenis. Akhirnya ia mulai keluar rumah lagi, bersosialisasi, dan mulai menjadi orang yang disenangi orang-orang disekitarnya.
            Jampes merupakan seseorang yang tidak lulus Sekolah Menengah Atas. Namun, karena bekerja begitu kerasnya mencari pekerjaan, ia diterima menjadi seorang pelayan restoran yang giat. Hampir setiap hari tak pernah aku melihatnya bangun melebihi jam 5. Begitu jauh ketika dahulu baru tengah hari ketika panas-panasnya. Meski hanya bisa diam dan tak pernah diajaknya berbicara kembali, aku senang adanya perubahan yang berarti itu.
            “Aku akhirnya dapat membawa gadis baru kesini. Ia seorang pelanggan yang aku ajak bercanda ketika aku menulis pesanan. Dia begitu cantik, tak sepertimu yang memiliki mata, ia memiliki pipi yang tembem dan hidung yang mungil. Itu yang membuatnya enak dipandang.” Suatu ketika Jampes berbicara pada foto Evi yang terpampang di tubuhku. Aku hanya tersenyum mendengarkan. Perpisahan Evi akhirnya bisa ia terima dengan baik.
            Jampes hampir-hampir saja mengalami putus asa yang tak berujung. Namun, dengan adanya keajaiban hari itu, akhirnya ia bisa menjadi seseorang yang lebih bersemangat. Aku akhirnya tau bukan hikmah Tuhan yang terjadi, namun setan yang berbelas hati membawanya menuju jalur kehidupan yang lebih baik. Bisa dilihat dari semua wanita yang ia ajak kemari pasti ia tiduri. Bagaimanapun, aku bersyukur atas itu.
            Dari beberapa wanita yang ia ajak kencan ke ruang ini, bisa dilihat semuanya merupakan wanita yang cantik. Entah memang bakat atau apa, ia bisa mendapatkan semua wanita itu dan menidurinya. Dari semua wanita itu, semuanya memiliki bagian masing-masing yang enak dipandang. Linda, wanita pertama yang menarik hati Jampes setelah Evi, memiliki pipi seperti bakpao dan hidung yang mungil. Begitu manis dilihat. Lalu Indah, ia memiliki sepotong bibir paling menawan yang pernah aku lihat. Lalu ada yang memiliki telinga, jari yang lentik, bahkan buah dada yang padat.
            Jampes berubah menjadi begitu perhatian kepadaku setelah mengenal wanita-wanita itu. Ketika pertama kali aku dibawa orang tuanya untuk menemaninya di ruangan ini, aku melihat kebahagiaan yang terpancar. Katanya, aku begitu bagus dan kokoh. Sejak saat itu aku dipercaya dan diberi makan beberapa barang yang juga berharga buatnya. Meski ketika berpisah dengan Evi aku hampir tak diberi makan sama sekali, ketika mengenal Linda dan delapan gadis lainnya akhirnya aku diberi makanan yang ia juga suka: daging. Meski aku bisu aku ingin mengucapkan terima kasih pada wanita-wanita itu yang membuat tuanku seperti ini.
            Setelah sembilan wanita cantik datang, bercanda-canda, merayu, berpelukan, berciuman dan seterusnya, ia tersenyum sambil memandangiku. Ia begitu suka bagian-bagian dari wanita yang dikencaninya. Aku terpana dan menganga ketika ia berkata: akhirnya aku akan memiliki matamu lagi Evi.
            Benarlah, bukan sebuah kebohongan yang Jampes katakan padaku. Disana aku terdiam di pojokan ruangan. Memandangi dan menebak-nebak apa yang akan terjadi pada wanita yang membuatnya sakit hati begitu dalam. Evi sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan tubuh ideal yang bisa membuat iri wanita lain. Sepasang mata itu masih saja begitu indah, bahkan bertambah indah pada bentuk wajah dewasanya. Obrolannya begitu mengalir, tak sedikitpun nada dendam terdengar dari Jampes. Nostalgia yang begitu romantis, seperti sebuah cerita Romeo dan Juliet yang akhirnya bertemu lagi setelah begitu lama.
            “Aku rindu ruangan ini.” ucap Evi.
            “Kau tahu, aku masih tak pernah melihat mata yang lebih enak dipandang selain punyamu.” Dan benar saja dugaanku, mereka meluapkan rasa rindunya pada jelajah tubuh. Nafas yang saling memburu itu hampir terdengar seperti sebuah janji yang tak akan saling meninggalkan. Tak lupa ia menciumi bagian terbaik dari Evi: sepasang matanya. Begitu menyenangkan memandang mereka berdua, hingga akhirnya Evi terbaring terpejam sembari memeluk bekas kekasihnya itu.
             Saat makan untukku pun tiba. Ketika Evi sudah melayang di dalam mimpinya, Jampes bergerak pelan-pelan seperti seekor harimau yang tak mau mengganggu mangsanya. Nyaris tak ada suara terdengar meski aku berada dekat disana. Tiba-tiba saja Jampes sudah membungkuk memandangi mata Evi begitu khusyuk. Didekatkan tangannya yang membawa sebuah pisau dapur. Dalam sekejap darah membanjiri kasur. Tusukan tepat di jantung kiri membuat Evi tak mampu mengucapkan kata-kata terakhir. Lekas seperti biasanya, pisau itu menari-nari dengan lihainya. Ketajamannya mampu membuat mata yang sangat disukainya berpisah dari kepalanya. Dimasukkan ke dalam botol, diberi air dan formalin, lalu aku menganga seperti anak kecil yang disuapi.
            “Akhirnya aku memiliki mata paling indah se Kecamatan, tidak, mata paling indah yang pernah aku lihat. Dan sekarang masih terlihat indah ketika berkumpul dengan yang lainnya.” Ucapnya ketika memasukkan ke dalam sebuah almari di pojokkan ruangan. Ya, aku adalah almari. Tempat tuan Jampes menyimpan bagian-bagian wanita yang enak dipandang.


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images