Cerpen Amatiran - BUNUH DIRI KARENA CINTA DAN KISAH CINTA ANEH LAINNYA
10.08
*Juara 1 Syukuran Sastra oleh Fokus UMSU
Pentol
selalu saja menarik perhatian ibu-ibu rumah tangga. Bukan karena tampangnya
yang rupawan, yang membuat setiap ibu lupa akan kejantanan suaminya. Tampangnya
begitu biasa, bahkan lebih cenderung masuk kategori ndeso. Namun bisa dikarenakan kisahnya layak dijadikan bahan untuk
menggosip, melebihi selebriti di televisi. Kisah bunuh diri Pentol karena
kekasih dan peliharaannya mati menjadi bahan gunjingan yang diulang-ulang.
Bermula
ketika Pentol, seorang anak peternak kambing ternama, tidak naik kelas. Bapaknya
terlihat begitu kecewa, seperti tidak ada lagi yang bisa dibanggakan oleh anak
semata wayangnya itu. Tubuhnya kurus, kepalanya besar dan berbentuk tak normal,
kulitnya tersebar penyakit kulit. Dalam kehidupan sosialnya ia begitu pendiam,
mungkin pemalu, sehingga banyak yang tak akrab kepadanya. Di pelajaran pun, ia
cenderung pemalas. Hampir semua mata pelajaran tak dikuasainya. Begitu
menyedihkan, sampai sering dibuat gunjingan ibu-ibu di tukang sayur. Bapaknya
tak tega memukul anaknya, takut tubuh kurusnya patah tulang. Hanya meluapkan
amarah disisipi umpatan serta sumpah serapah. Setelah lelah mengata-ngatai, ia
menemukan sebuah ide yang tak wajar. Ia menarik tangan Pentol menuju
kandang-kandang kambingnya. Kebetulan, ada kambing anakan yang sedang tertidur
di tumpukan rumput, dipenuhi tahi kanan-kiri. Bapaknya menyuruhnya merawat
kambing itu agar anaknya lebih rajin menghargai hidup. Kalaupun ia tetap tak
naik kelas, paling tidak Pentol jadi belajar mandi dan membersihkan tubuhnya
dari membersihkan seekor kambing itu.
Pentol
masih jadi anak yang pendiam. Namun sekarang ia lebih sering keluar rumah,
sekedar untuk membawa kambing itu ke lapangan atau mengajaknya bermain di
halaman rumah. Awalnya, banyak yang risih kepadanya ketika berjalan melewati jalan
perkampungan, apalagi membawa seekor kambing. Lama-kelamaan, ia tumbuh menjadi
remaja yang lumayan gagah serta bersih dari penyakit kulit. Ia juga mulai
sering berkomunikasi karena belajar dari beberapa petani yang menyapanya di
perjalanan menuju lapangan. Ketika ada yang menawar kambing yang sering
dibawanya, pentol berkata lugas “Mohon maaf. Saya tak berniat menjualnya, Pak.
Ini sudah seperti anjing peliharaan saya. Bahkan saya menamainya Ferguso, keren
kan, Pak?” Penawar tersebut ketawa terkekeh-kekeh.
Meski
seekor kambing, Ferguso seperti harta yang sangat berharga bagi Pentol. Ia
sudah menjadi teman pertamanya, sebelum berteman dengan yang lain. Ia sudah
menjadi tempat Pentol meluapkan perasaan. Ferguso dimandikan di kamar mandi
rumahnya, mengusapnya pelan dengan sabun seperti memandikan seorang anak. Sesekali
Pentol membawanya tidur bersama seperti seekor kucing persia yang lucu dan
penurut. Pernah sekali Ferguso hilang dari kandang khusus yang dibuatnya,
Pentol mencarinya keliling rumah, kandang, bahkan sampai kampung sebelah.
Kepanikannya baru reda, ketika ia menemukan Ferguso hendak dikawinkan dengan
kambing jantan lain (dan Pentol baru tahu Ferguso adalah betina) oleh Bapaknya,
ia mendorong Bapaknya sampai terjatuh dan membawa pulang Ferguso. Mulai hari
itu Bapaknya tidak berani mengawinkan Ferguso, dan terpaksa menganggap Ferguso
adalah hewan peliharaan.
Beberapa
tahun kemudian, Pentol menginjak bangku perkuliahan. Ada seorang teman sekolah
dasarnya dulu, Nur, satu kampus dengannya. Nur terkaget melihat Pentol
menyapanya terlebih dahulu. Pentol begitu percaya diri dan terlihat sesekali
tersenyum ramah. Nur mengingat Pentol ketika masih lugu di sekolah dasar. Nyaris
semua menebak Pentol memiliki masa depan yang suram. Nur tak pernah menyangka Pentol
yang sekarang begitu berbeda. Selain kulitnya coklat bersih dan tak ada bekas
luka, tubuhnya sekarang begitu gagah, dimatanya wajahnya seperti ganteng gondes, atau gondrong ndeso. Sekali
bertemu Nur bisa ngobrol banyak dengan Pentol, membahas tentang perkuliahan,
organisasi, hobi, sampai masalah asmara.
Dari
ngobrol ngalor ngidul, kedekatan
mereka mulai menumbuhkan asmara, layaknya remaja pada umumnya. Pentol mulai
sering memakai wewangian sebelum bertemu Nur. Nur pun sering berdandan, bahkan kadang
membuang-buang waktu hanya karena memilih pakaian mana yang cocok untuk bertemu
dengan Pentol. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, menunggangi kuda besi GL Pro milik Pentol. Menonton bioskop,
nongkrong di cafe, ataupun hanya sekedar berlama-lama di ruang tamu kos milik
Nur.
“Terima
kasih sudah membuatku senang selama ini, Pentol.” Ucap Nur di suatu hari, di
sebuah taman kampus mereka.
“Aku
juga senang, aku juga harus berterima kasih.”
“Aku
dengar-dengar, Pentol masih belum memiliki pacar kan?”
Pikiran
Pentol melayang pada kambing peliharaan berwarna putih. Ferguso.
“Tapi
aku punya seekor kambing peliharaan di kos.”
“Aku
tidak peduli, Pentol. Aku sudah tahu dari dahulu kalau kamu suka membawa
kambing peliharaanmu kemana-mana. Aku tak kaget bila kamu membawanya ke kosmu.”
Mulai
dari percakapan di sebuah taman tersebut, Nur sudah mengungkapkan seluruh
perasaannya bahwa Nur terhisap dalam kenyamanan Pentol. Perasaan dalam benak
Pentol seperti meledak. Apalagi, jika dilihat-lihat, Nur memiliki tubuh yang
molek, wajah yang lumayan manis, dan mata yang meneduhkan. Kedua remaja
tersebut menjalin hubungan pacaran. Kosan Nur mulai sering dikunjungi Pentol
untuk menginap. Nur ingin berlama-lama dengan Pentol, namun karena ada Ferguso
di kamarnya, Pentol memutuskan yang menginap dan kebetulan kebanyakan kos di
kota besar ini dibebaskan jika ada lawan jenis yang menginap.
***
Di
antara semua pasangan yang berhubungan, penyakit yang kadang membabi buta
adalah cemburu. Sadar akan Ferguso yang kurang diperhatikan, Pentol meminta
waktu seminggu untuk tidak menginap di kos Nur karena untuk meluangkan waktu
menemani sahabatnya ini sebelum hari ulang tahun Ferguso tiba. Nur mulai
dihinggapi cemburu, bahkan kepada seekor kambing. Kos Nur tak jauh dengan milik
Pentol, jadi setiap siang Nur yang datang mengunjungi Pentol karena Pentol
sedang tak mau meninggalkan Ferguso. Nur seringkali diabaikan di kos Pentol,
hanya ditemani ngobrol beberapa menit lalu mengusap usap dan tersenyum manis
kepada Ferguso. Ketika kambing itu berkali-kali berusaha berbicara, suara
“Embeek” selalu terdengar pahit seperti kata romantis seorang gadis yang ingin
merebut Pentol dari pelukannya.
“Aku
ingin racuni itu kambing” Nur ngedumel dalam hati.
Teman-teman
kos sangat menyayangkan jika seorang gadis cantik seperti Nur diabaikan. Bahkan
ketika Nur ingin membuang pikiran buruknya dengan bermain dengan kambing itu,
selalu seperti mengamuk hendak menanduk Nur. Pentol pun mulai melarangnya
mengusap bulu Ferguso, bahkan menyentuhnya. Nur membayangkan betapa bahagianya
kambing itu bisa dimanjakan orang yang dicintainya selama ini. Pikiran Nur
mulai kacau ketika malam hari tubuhnya butuh dibelai oleh Pentol. Nur yang
seringkali tenggelam dalam asmara di kamar kosnya bersama Pentol tak sanggup
membayangkan lelaki itu memeluk kambing hingga terlelap.
Teman-teman
kos kini sering bergurau pada Nur ketika mampir ke kos Pentol, bahwa pacar
pertamanya adalah Ferguso dan Nur adalah seorang selir. Kadang
dibanding-bandingkan kulit putih Nur kalah telak dengan bulu putih kambing itu.
“Mungkin kalau kamu punya tanduk Pentol bakal lebih sayang padamu?” semuanya
tertawa lepas. Nur hanya memasang senyum kusut, hanya menumpukkan perasaan
sakit dan terhina.
Pada
tengah malam ketika Ferguso berulang tahun, Nur mengumpulkan niat. Dia duduk
terdiam, suasana hening, detik pada jam dinding terdengar lebih nyaring. Udara
dingin mulai merasuk melalui pori-pori. Nur mulai merencanakan, dengan berbagai
cara, harus mencelakai atau membunuh kambing itu. Membunuh kambing itu pastilah
melegakan perasaan. Ketika jarum menunjuk angka 2, Nur bergegas menuju kos
Pentol.
Nur
membuka pintu perlahan, karena sebelumnya sudah janjian pada teman kos Pentol,
agar tidak mengunci pintu. “Untuk memberikan kejutan pada Pentol.” Katanya
sambil tersenyum. Ia mengintip pada sebuah jendela yang berdebu di kamar
Pentol. Setan Bajingan! Umpat Nur ketika melihat kecemburuannya terbakar, jelas
selama ini bukan cemburu buta. Matanya terbelalak, penampakan lelaki yang dicintainya,
telanjang bulat. Pentol melakukan aktivitas yang tidak pernah dibayangkan Nur.
Pentol, lelaki yang membuatnya jatuh hati menyetubuhi kambing itu seperti
ketika ia melakukan kepadanya.
Dalam kos dimana
tak ada lampu yang menyala, kegelapan memenuhi hatinya. Ia menahan diri menutup
mata, menunggu waktu yang tepat sambil mulut bergerak sumpah serapah. Hingga
tepat ketika mereka terlelap, Nur membuka pintu, menghujan pisau pada Ferguso
yang terlelap. Suara ngembek Ferguso
begitu kencang, seperti kambing disembelih, memenuhi ruangan kamar.
Malam itu,
sayup-sayup Pentol mendengar suara minta tolong Ferguso. Darahnya tersebar
kemana-mana. Ia melihat seperti ada tangis yang tumpah pada kambing
kesayangannya. Tanpa ambil pusing, tangan-tangan Pentol bergerak cepat
menjatuhkan Nur hingga tak berdaya. Nur menangis terisak-isak. “Aku hanya ingin
kamu jadi milikku” kata-kata terakhir yang Nur lontarkan tak cukup menyadarkan,
sebelum akhirnya pisau menggorok lehernya yang mungil.
***
Kabar kematian
Nur berhembus kencang menuju kampungnya. Dari keluarganya, mengalir ke sanak
saudara, tetangga, ibu-ibu di tukang sayur, sampai ke kampung sebelahnya, yaitu
kampung Pentol. Kepedihan terus berkembang, anak yang dikuliahkannya dengan
jerih payah, berakhir di pisau seorang pembunuh. Keluarga tak habis pikir,
siapa yang tega melakukan itu?
Keluarga Pentol
ikut kaget dan nyaris tak percaya, ketika mendengar kabar anak semata wayangnya
bunuh diri ketika Nur mati dihadapannya. Kalaupun ada yang mendengar, pasti
berpikiran mereka sudah lebih bahagia hidup di alam sana berdua. Namun, tak ada
yang mengetahui, jika Pentol sebenarnya memilih bunuh diri karena kematian Nur
belum bisa membalas kebaikan Ferguso. Cuma nyawanya satu-satunya yang dianggap
impas.
0 komentar