Cerpen Amatiran - ANAK SANG TIKUS

10.29


Matahari yang terik, Jalan Raya Soekarno-Hatta tidak menunjukan kelancaran, udara dipenuhi asap yang membuat sesak paru-paru. Seperti biasa aku mencari nafkah di atas bus itu. Kaus merah partai politik dengan jins yang sudah lusuh melekat erat di tubuh. Senyum yang tak manis menjadi pembuka aksi dan lagu band Slank, seperti para koruptor, sepertinya membuat beberapa pasang mata penumpang tertarik.
“Sekian lagu yang saya sampaikan, semoga menghibur perjalanan anda.” Ucapku dengan gigi yang menguning, dan tarikan otot bibir yang mampu membuat kedua pipi berlubang
Aku mengadahkan tangan kepada setiap penumpang yang berdesakkan. Memang tidak semua yang memberikan uang, ada yang sorot matanya sangat kagum tapi entah kenapa tidak mau memberikan beberapa receh uang padaku, gumamku. Ada juga yang terlihat cuek, namun memberikan uang lembaran lima ribuan, uang yang cukup besar dalam dunia pengamen. Mungkin memang tak suka musik, namun mempunyai simpati terhadap sesama yang besar. Mungkin juga orang baik itu tidak dapat dinilai dari luarnya saja.
Hari telah semakin gelap, penumpang dalam bus kota tempatku bekerja sudah sepi, hanya satu dua wajah yang ada. Dan tepat di halte sepi yang sudah berkarat aku memutuskan untuk berhenti dan turun. Aku tak pulang sendirian, angin kencang dan langit senja mendung menemaniku pulang. Dengan sepasang sandal swallow usang, yang hampir putus aku melangkahkan kaki sembari bernyanyi beriringan dengan suara petir menyambar. Aku melihat wajah-wajah asing yang kebingungan akan datangnya hujan, aku petik gitar tua dan melemparkan senyum untuk menghibur setiap dari mereka. Ada yang datang menghampiri, memberi uang receh, namun aku menolak. Aku mengiringi lagu pada mereka karena ingin berteman. Hari bekerjaku telah usai, meski di hari lambat ini pendapatanku tak seberapa.
***
Adzan Isya’ berkumandang 15 menit yang lalu. Di dalam dapur, wanita tua dengan wajah kantuknya, mata yang tak penuh sedang menyiapkan makanan untuk kami makan. Aku yang baru pulang dari surau di perumahan mencoba membantu, menyiapkan air putih dan teh hangat untuk menemani malam kami yang dingin. Tepat sehabis ibuku melaksanakan kewajiban kami makan malam bersama.
“Bu, maaf ya hari ini tak dapat uang banyak,” ucapku pelan.
“Tak apa, habiskan dulu makananmu sebelum dingin.”
Aku merasa canggung melihat nasib rumah yang terhimpit kesulitan bila musim hujan tiba. Genteng yang pecah, dinding bambu rumah yang hancur dimakan rayap, dan pelataran rumah yang becek digenangi air hujan dari sela genteng yang pecah. Entah kapan hasil usaha mengamen cukup untuk merenovasi rumah. Belum lagi ibuku yang sudah setengah baya masih bekerja membantu  di rumah tetangga membuatku mengelus dada. Hendaknya sebagai orang yang mulai lansia ia duduk bersantai menikmati masa tuanya.
Dan udara malam yang semakin menusuk tulang, lewat halus melalui pori-pori. Jarum jam tepat menunjukkan jam 9, ibuku telah berada di atas ranjang kayu, berselimut kain batik setelah usai mengaji bersamaku. Memang malam suka menjadi waktu pas untuk aku bersantai, setelah seharian bekerja. Aku keluar rumah, menuju ke warung kopi yang berada 3 rumah di sebelah timur rumah tuaku.
Assalamualaikum!”
Walaikumsalam,” jawab dua pria kembar, temanku, penjaga warung.
“Suryo.. sini main kartu dulu bareng-bareng,” ajak Cak Kandar yang sedang membawa beberapa kartu remi.
“Enggak Cak.. aku disini mau ngopi aja.”
“Ya sudah, itu buat sendiri kopi di belakang.”
Aku pergi menuju ke bagian dalam warung, menyeduh kopi susu sachetan dan mengambil surat kabar yang berada di atas meja karambol. Aku duduk, menikmati hening malam dan secangkir kopi. Pada kolom berita yang ada aku langsung mencari iklan kecik, mengabaikan kolom berita utama “Suryono, Anggota DPR-RI Koruptor Dana Renovasi Jalan Kendal sulit ditangkap”.
“Ada lowongan kerja gak ya di sekitar sini, Cak?”
“Kalau mau ada pabrik rokok di sebelah selatan bangjo, tapi syaratnya harus punya ktp. Nah, umurmu berapa Yo?” tanya Cak Kadir.
“17 tahun Agustus besok Cak.”
“Masih lama ya. Gini, kamu nemenin Kadir kerja di warung, biar aku yang kerja di pabrik. Kan lumayan, kerjanya gak jauh rumah.”
“Ya nanti tak pikirkan lagi Cak.”
Tak lama terdengar suara langkah kaki, datang bayangan orang dari perumahan elit di dekat kampung kumuh kami.
“Eh Cak, kopi satu ya, sama mie rebus pakai telor,” ucap Bolot, temanku mengamen, dengan membawa beberapa lembar uang ratusan ribu.
“Cak, ini aku bayar hutang-hutang yang kemaren.”
“Uangnya kegedean ini Lot.”
“Ya sudah, ambil saja, itung-itung ibadah,” ucap Bolot dengan wajah santai.
Melihat Bolot yang membawa uang banyak, pikiranku teralihkan. Aku tiba-tiba membayangkan memiliki banyak uang. Rumah sudah diperbaiki, dan aku bisa melihat ibu tersenyum santai dirumah, tanpa harus lelah membanting tulang.
“Hei, Sur!” Bolot memandangiku dengan heran.
Aku menoleh terkejut.
“Ngalamun aja, mikirin apa lu Sur?”
“Gak ada apa-apa kok Lot.”
“Itu, Suryo lagi butuh duwit. Suryo lagi cari pekerjaan yang gajinya lumayan daripada menyanyi di atas bus kota,” ucap Cak Kandar.
“Kamu lagi butuh uang Sur? Sini ikut aku,” menarik tanganku menjauh dari warkop, ke tempat agak sepi.
“Kamu punya saudara cewek gak ?” tanya Bolot.
“Memangnya kenapa?” tanyaku heran.
“Kamu serahin saudari kamu ke rumah mewah gang mawar, buat dijadikan istri simpanan dari orang kaya yang sepertinya koruptor.”
“Astagfirullah. Teman yang ku kenal selama ini ternyata bisa melakukan hal sekeji itu terhadap saudaranya,” ucapku dalam batin.
“Tidak lah, Lot. Terima kasih tawaranmu.”
Aku kembali ke warkop, menghabiskan kopi dan langsung pulang ke rumah untuk mengisi tenaga di hari esok. Berharap semoga esok mendapat uang banyak untuk Ibu.
***
            “Suryo, suatu saat nanti, kelak menjadi orang dewasa yang tampan, jadilah orang yang bertanggung jawab. Jangan seperti tikus, yang makan apa saja, apa yang bukan hak kita.”
            “Iya Ayah...”
            Ayah menggendongku, membawaku berkeliling kota dan mengunjung tempat wisata pribadinya, yang indah namun tidak banyak yang tahu. Dengan motor antik, dengan guncangan di setiap jalannya, membuat aku tambah bersemangat menjalani hari. Ketika pulang, ia mengajakku ke rumah beberapa orang yang kurang mampu, memberi apa yang kami punya, mie instan atau semacamnya.
            Keesokan pagi, aku melihat Ayah dengan pakaian rapi di tubuhnya. Ayah berpamitan hendak pergi ke luar kota beberapa hari untuk urusan bisnis. Ia menitipkan aku ke Mbok Inem, asisten rumah tangga kami karena ibuku telah meninggal ketika aku lahir. Aku memeluknya erat dan mencium tangannya, mengantarkannya sampai ke depan rumah, ke mobil Kijang kami.
            Saat langit menjingga, aku berada di depan kotak kaca yang disebut televisi. Aku membawa beberapa camilan yang biasa aku makan bersama Ayah, namun aku menjatuhkan dan toples kaca pun pecah. Aku tak menghiraukannya, namun keadaanya menjadi tegang ketika ada sebuah berita.
            “Mobil Kijang berplat H yang sedang melaju kencang menuju ke kota Jakarta menabrak sebuah pohon. Satu-satunya penumpang tewas dalam kejadian.”
            “AYAAAH..” aku menangis tersedu, semua kesedihanku tumpah ruah seiring menetesnya air mataku membasahi pipi.
            Tubuhku bergerak kencang, seakan sengaja digoyang-goyang oleh tangan-tangan raksasa.
            “Bangun, Yo. Banguun!!”
            “Mbok Inem, Ayah dimana?”
            “Kamu bermimpi itu lagi ya. Matahari sudah hampir terbit, cepat basuh wajahmu dengan air wudu dan pergilah ke surau,”ucap tenang Ibu.
            Mimpi itu menghantui aku lagi. Kejadian 12 tahun lalu layaknya sudah menjadi mimpi wajibku setiap minggunya. Aku mengambil air untuk membersihkan pipi yang sedikit basah dan sepasang mata lebam. Aku beranjak solat untuk menenangkan tubuhku yang masih bergetar.
***
            Sang surya terasa tepat berada di atasku, menyinar dengan terik yang membuat tambah hitam kulit sawo matangku. Ditambah lagi asap kendaraan menjadi bedak untuk kulitku tambah hitam. Di samping tiang lampu merah kuning hijau, aku menunggu beberapa kendaraan berhenti. Tepat lampu merah, aku bersama dengan seniman jalanan, pembersih yang membawa kemoceng berlomba-lomba menghampiri mobil dan motor yang diam.
            “Selamat sore Om. Maaf kami mengganggu perjalanan anda.”
            Aku menyanyikan lagu Koes Plus, kolam susu dengan gitar tua bekas ayah. Sang pengemudi membuka dompet kulit mahalnya, mengeluarkan uang lima ribuan. Saat mengambil uang dari tangannya aku melihat orang berjas hitam rapi terus memandangiku.
            “Kamu anak mana?” tanya orang lima puluh tahunan yang duduk di belakang.
            “Anak kampung santri, belakang perumahan dekat sini Pak.”
            “Ayo masuk, nanti saya anterin sampai rumah.”
            “Tak usah Pak, terima kasih.”
            “Tak usah begitu, saya yang meminta kok. Ini saya kasih uang,” menyodorkan uang padaku, dua lembar seratus ribuan.
            “Tak usah Pak. Itu bukan hak saya.”
            “Saya ikhlas…” jawabnya dengan tersenyum.
            “Baik sekali orang ini, akhirnya aku dapat mencicil renovasi rumah ibu,”ucapku senang dalam batin.
            Aku masuk dengan perasaan canggung. Susah untuk duduk karena terlalu empuk, jarang duduk di tempat yang nyaman seperti ini.
            “Mau rokok?”
            “Maaf saya tidak merokok,Pak.”
            “Berapa umur kamu?”
            “Tujuh belas tahun, Pak.”
            Ketika mobil melewati perumahan elit bersih di dekat perkampunganku, berhenti sejenak di depan gang mawar.
            “Kebetulan rumah saya disekitar sini, gang mawar.”
            Pikiranku seakan mengalih ke pembicaraan dengan Bolot semalam. Saudarinya adalah istri simpanan orang kaya di gang ini. Kulihat terdapat nama Suryono, di dada kirinya, seperti koruptor yang aku baca di surat kabar. Aku mencoba menghilangkan negative thinking terhadap maksud baik orang ini.
Mobil pun berjalan lanjut sampai ke depan rumahku. Ketika aku hendak turun, orang tersebut juga ikut turun. Aku pun menawarinya masuk ke rumah.
Assalamualaikum.”
Walaikumsalam.” Ibu keluar dengan membawa sapu hendak pergi kerumah kepala desa.
“Mbok Inem apa kabar?” tanya pria tersebut.
Wajah Ibu terkaget. Aku menjadi bingung, seperti orang linglung.
“Ini Suryo ya, Mbok?”
Aku memandangnya dengan heran.
“Kamu sudah besar ya, Suryo. Ayah harusnya menemui kamu lebih awal, mungkin kamu sudah jadi siswa hebat.”
Waktu terasa berhenti, Ibu pun tak berbicara sedikit pun. Raut wajah kaget terpahat di kerutannya.
“Kamu akan kubawa keluar kota, memperbaiki penampilan dan akan aku sekolahkan kamu.”
“Mungkinkah ini ayahku?” ucapku dalam batin, bingung karena lupa akan wajah ayahku yang telah meninggal ketika usiaku menginjak lima.
            Ibu meminta pria itu untuk pulang.
“Besok saya mampir kesini lagi, Nak.”
“Bolehkah aku tanya, Yah?”
“Boleh, silahkan.”
“Ayah adalah anggota DPR?”
“Iya, darimana kau tahu Suryo?”
Pikiranku langsung merasa benar, keringat dinginku yang menahan ingin berpikiran negatif langsung mengering dihembus angin pepohonan. Ayah yang dulu mengajariku untuk tak menjadi tikus ternyata menjadi tikus di sekarang ini.
“Ayah tak usah kemari lagi, aku senang tinggal dengan Mbok Inem. Mbok sudah menjadi Ibuku sendiri”
“Tapi Sur..”
“Terima kasih untuk waktunya dulu Ayah, kalau mau Ayah boleh kemari kapan pun.”
Pria itu pulang dengan mimik kecewa, kurang puas, kurang senang.
Tak lama setelah Ayah pergi, aku menuju wartel di dekat rumah. Aku menghubungi seseorang dengan uang yang Ayah berikan.
***
Matahari yang terbit perlahan dari timur, menunjukkan sinarnya perlahan untuk menjadi sebuah hari yang penuh dengan kejutan. Aku pagi itu sudah berada di zebra cross membawa gitarku dan ditemani kopi dalam botol mineral bekas. Aku tersenyum melihat surat kabar hari ini, melihat di kolom utama. “Suryono, Koruptor Dana Pembangunan Jalan Kendal telah Ditangkap”. Ayah mungkin akan lebih menemukan arti hidup di dalam tahanan.

SMA Negeri 1 Kendal, 2015.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images