Cerpen Amatiran - Teror Kampung Sembung
09.26
TEROR KAMPUNG SEMBUNG
Oleh Reza Pahlevi Wirananta
Panas siang ini membuatku semakin menggila,
mengentalkan aliran darah yang sudah memuncak karena hasutan emosi.
Pertengkaran terjadi di pusat kota, memancing beberapa orang lewat untuk
sekedar melihat atau bahkan lama-lama menonton. Ada beberapa yang mengabadikan
momen dalam sebuah foto yang diambilnya dari telepon genggam. Aku terlibat di
dalamnya, namun tak kuasa raga menentang mereka. Aku hanya mampu melempari
sampah pada mereka, pada gedung mewah itu juga. Pertentangan berlangsung dua
jam, dan berakhir dengan darah yang mewarnai aspal hitam.
Entah kenapa sang waktu memilih hari minggu sebagai puncak dari emosiku.
Melakukan perjalanan satu jam setengah dari tempat tinggal dengan berjalan
kaki. Hanya aku dan bayanganku yang menemani. Setiap orang di jalan sudah ku
ajak melancarkan aksi ini, dengan nada santun dan ramah. Mereka hanya membalas
diam dengan ekspresi jijik yang meleleh dari wajah mereka. Memang setiap niat
baik mungkin hanya sedikit yang mendukung, sepertiku, bahkan hanya sendirian.
Sampai tengah kota yang panas aku bermandikan keringat. Lepuh akibat panas
memenuhi telapak kaki yang sudah kurus rapuh. Aku mencari botol bekas di sebuah
tempat duduk di tepi jalan raya. Aku memenuhinya dengan air keran, karena aku
hanya pengangguran yang tak memiliki uang sekoin pun.
Tiga puluh menit kemudian, kemantapan mendorong untuk segera berdiri menuju
tempat yang aku cari-cari : Rumah Dinas Bupati. Mendekat pada tujuan. Rasa ragu
seringkali lewat dan langsung merantai kaki untuk melangkah, melambatkanku.
Seraya melangkahkan kaki pelan-pelan, aku mencairkan rasa ragu dengan surat
Al-Ikhlas. Aku seringkali membaca Al-Ikhlas sebelum melaksanakan peristiwa
penting.
Pasang-pasang mata dari orang-orang kekar di depan rumah sudah menujuku.
Menunggu, dengan ekspresi singa yang hendak memburu kancil kurus. Semakin aku
mendekati rumah, semakin langkah mereka menujuku, mendekatiku. Tangan raksasa
dengan cepat mendarat di kerah bagian depan. Tenggenggam, menarikku. Aku datang
dengan ekspresi damai, namun berjumpa pada nada-nada pemarah mereka. Dengan
cepat aku melantangkan nada protes agar Bupati yang duduk tenang disana segera
mendengarkan.
“Pruk..!! Plakk..!! Dugg Dagg Prukk…!!!”
“Saya hanya ingin berjumpa Bapak Setyadi! Mohon ijinkan saya lewat, Pak!!”
“Minggir kau orang gila!”
“Jangan pernah kesini lagi kau paham?!”
“Persetan dengan kalian!! Saya hanya ingin keadilan!”
Singa pemburu telah menunjukkan taring. Bernafsu tinggi merobekku sebagai
mangsa mereka. Aku yang hanya tulang belulang berbungkuskan kulit, dengan tak
terawat jarang makan. Mereka menenun waktu mereka dengan olahraga, latihan
fisik bersiap menghadapi segala ancaman. Jelas kalau aku akan dibuat babak
belur. Aku tak berdaya, menerima segala hantaman dengan mengusahakan bersabar.
Aku ingin melancarkan aksi yang damai. Apa daya sang singa sudah lapar.
Sebenarnya sang yang punya rumah sudah menyambut protes dari lidahku. Ia
memasangkan pandangan menghadapku yang dihajar tanpa alasan. Ia hanya terdiam,
berakting seperti sebuah pohon yang tak tahu apa-apa. Atau mungkin ia senang
sebuah kecoa kecil dimusnahkan agar tidak mengganggu kebersihan dari
pangkatnya? Entahlah.
“Persetan dengan kalian! Persetan dengan anda Bapak Bupati.!!” Melangkahkan
kaki secepat mungkin, menjauhi keramaian yang menonton aku sebagai kambing
hitam.
***
Dalam udara yang melandas dari pesawahan, terbang, menggesek kulit kami dengan
manja. Menikmati pepohonan yang menyapa, melindungi kami dari panasnya sang
surya. Kepulan-kepulan beterbangan, bahkan dari anak yang beranjak remaja
berusia sebelas tahun. Sebuah kehangatan di tengah kesejukan sore di kampung
Sembung. Berbagi tawa bersama, menyanjung kekentalan secangkir kopi diatas
tikar plastik bekas. Sehabis bekerja di tepi sawah.
“Enggak bosen nyangkul apa, Pak Lurah? Padahal kantor lurah Sembung sudah
nyaman, ber-AC lagi!” ucap seorang petani. Seketika semua orang tertawa.
“Saya bakal berhenti nyangkul kalau Indonesia sudah tidak ada sawah lagi,Pak..”
“Sekarang sawah sudah langka lho, Pak. Di Sembung aja sudah banyak yang berubah
menjadi perumahan. Apalagi di daerah lain, Pak. Awas nanti bakal enggak bisa
nyangkul lagi…”
Semua orang tenggelam dalam omongan ringan menghadap ke pesawahan. Semua masih
ramah terhadapku, beberapa sungkan, namun aku tak mau ada yang sungkan
terhadapku. Sawah dan kampung Sembung yang jauh dari kota ini telah menjadi
bagian penting dari hidupku. Layaknya darah dalam tubuh. Terus mengalir,
meskipun berubah, sejak aku menjadi seorang yang dipercaya aku akan menjaga
Kampung Sembung tetap utuh.
Beberapa bulan semenjak sang waktu mengizinkan aku menjadi Lurah, beberapa
surat merayuku untuk merontokkan Sembung. Membacanya saja sudah membuat
perasaanku muak. Sebuah surat yang menjadi sebuah cobaan vital bagi seorang
pemimpin, apalagi Lurah baru sepertiku. Beberapa warga sudah ku tanyai pendapat
tentang isi surat dari Bupati ini, dan Alhamdulillah mereka berada dalam
sepemikiran denganku. Mereka menolak menjual tanah mereka sebagai proyek Jalan
Tol penghubung dua kota sebelah timur dan barat kotaku.
Hasil keputusanku dan warga Sembung melayang membalas surat yang telah kuterima
beberapa minggu lalu. Meski ada beberapa yang setuju dengan membutuhkan uang,
namun aku mengetahui harga rumah yang layak. Harga yang Bapak Bupati tawarkan
jauh dari kata layak.
Siang yang membakar kulit, memaksa keringat keluar menjadikan pulangku dari
pekerjaan agak malas. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ditambah
beberapa surat yang sama terus menimpaku, seakan teror rayuan : Penjualan Tanah
dan Rumah Warga Sembung. Selalu saja ku balas dengan penolakan secara sopan,
agar tidak terjadi permasalahan. Di depan rumah sederhanaku, yang kayunya sudah
lapuk dimakan zaman, berdiri seorang rapi dengan sepatu pantofel mengkilap.
Rambutnya pun klimis berlapiskan minyak rambut mahal. Di dadanya bertuliskan
“SETYADI, S.PD.”
Kata-kata yang keluar darinya menunjukkan pribadi yang ramah. Dengan sepasang
cangkir kopi yang mengental di tengah pembicaraan, asap rokok pun tak sungkan
dari kita untuk kita terbangkan. Bak di tengah kedai kopi, diiringi dengan
canda. Ia pun menyuruh ajudannya untuk bergabung menyantai, sembari duduk di
atas kursi bambu bertiga. Pembicaraan pun tak jauh dari yang kubayangkan.
Berujung pada proyek pembangunan jalan tol. Dengan nada yang santai, aku
menunjukkan data yang tidak setuju pada proyek ini, mengusulkan sebuah jalan
yang lebih baik daripada menggusur mereka. Pak Setyadi menunjukkan sikap
menerima, berlapang dada. Tak lama setelah menikmati arus pembicaraan yang santai
ia pulang. Aku pun menyanjungnya dengan perasaan lega.
***
Beberapa bulan berlalu dengan cepat, terlalu cepat bahkan membentur mimpi
burukku. Beberapa rumah di Kampung Sembung gugur satu per satu. Beberapa
diantara mereka malah tidak mendapatkan untung. Selalu saja ada keluhan yang
didaratkan ke wajahku, bak tamparan keras. Mereka mulai mengabaikanku. Beredar
rumor di sebuah warung kopi jika beberapa dari pegawai kabupaten melancarkan
aksi gerilya. Pemaksaan yang tak dinampakkan. Beberapa mulut su’uzon meluapkan
bahwa aku telah menyetujui proyek tersebut sepihak dan tanpa persetujuan warga.
Aku mencoba melebur ke permasalahan dengan sopan, mencoba memulihkan
kepercayaan dan mencari titik temu yang tidak meresahkan warga.
Malam yang segelap kenyataan yang ku hadapi diwargai oleh kemerahan api yang
dibawa oleh warga. Warga yang masih bertahan kesal. Tertulis di wajah mereka
kalau mereka siap menggebukiku ramai-ramai.
“Pak Lurah, dimana janji anda yang ingin mensejahterakan warga? Apakah sudah
lenyap?”
“Pak Lurah, jangan jual tanah nenek moyang kami diam-diam. Ini tanah bersama,
bukan tanah Anda!”
“Pak Lurah, jangan paksa kami menjual tanah kami dengan mengancam membunuh
anggota keluarga kami!”
“Persetan Anda, Pak Lurah!!!”
“Mundurlah Anda sekarang!”
Malam yang tadinya begitu dingin, menusuk tulang, merobek kulit yang tipis
berubah. Suasana panas mengudara di malam itu. Nada-nada membentak. Mosi tidak
percaya. Semua yang hadir malam itu menyerangku. Terjadilah adu argumen sampai pagi menjelang. Semua penggusuran itu
terjadi oleh para orang bayaran yang tidak menguntungkanku. Mereka mengaku
orang yang diutus oleh perintahku. Mereka mengatakan bahwa aku melegalkan segala
cara agar proyek itu berjalan lancar. Memukuli pemilik rumah, mengancam akan
membakar seluruh peternakan sapi mereka, bahkan mengancam akan membunuh anak
mereka jika mereka tidak menyetujui kontrak. Dari kabar yang beredar dari mulut
menjumpai mulut lain akhirnya beberapa memilih menandatangani dengan terpaksa,
paling tidak ada beberapa uang untuk kantung mereka. Setidaknya bukan saku
kosong, apalagi ancaman yang seakan meledakkan jantung. Mendengar kabar itu
sulit sekali memancing kepercayaan mereka yang sudah runtuh oleh bulldozer
penggusur. Baru adzan Subuh berkumandang lantang, mereka mulai menghilang.
Pulang.
Surat-suratku beterbangan menuju rumah kerja Bupati. Menyerang runtun seperti
teror Israel pada Palestina. Aku sudah kebakaran jenggot. Memulai surat dengan
bahasa sopan bahkan semakin kemari disisipi oleh umpatan. Semua surat pun tak
mendapat jawaban. Teror yang ia rencanakan masih berlangsung, semakin menipis
warga yang menghuni Kampung Sembung. Akal sehatku mulai rusak, jantung serasa
mulai melepaskan diri. Aliran darah selalu mengalir kencang tak pernah berpelan
bahkan semenit pun. Aku memutuskan mengunjungi namun selalu tanggapan Bupati
sibuk, bahkan di hari liburnya. Setiap yang ku lakukan akan salah karena teror
penggusuran itu. Aku bahkan tak tahu harus berharap pada siapa, memohon Tuhan
namun tak kunjung kepastian yang menguntungkan. Aku putus harapan. Menjadi
sering mengumpat dan jauh dari kata sopan, tak mampu mengontrol perlakuan.
Keluargaku akhirnya meninggalkan, seiring kampung Sembung yang ditiadakan.
0 komentar