Cerpen Amatiran - AKU, AKU, AKU

09.17

AKU, AKU, AKU
Oleh Reza Pahlevi Wirananta

Tertuang penyesalan yang menjelma raksasa dalam perasaanku. Menghantuiku setiap waktu yang berjalan perlahan. Setiap dari yang berperasaan akan mengalaminya setimpal apabila menjumpai permasalahan pelik sepertiku.
Menjadi satu dalam sebuah perbincangan kopi dan rokok. Emosi terbang melingkari kita. Suasana terbakar malam itu, memanaskan udara yang dingin menghantam. Memandangi mata seorang pelaku kriminal dengan tajam. Aku berusaha mencairkan suasana, menyelidiki jalan cerita dengan duduk di teras rumah.
“Keluarga Pak Mamad sudah melaporkan berita kehilangan pada polisi, Cuk!”
            “Kan sudah saya bilang, kalau ada masalah ceritakan baik-baik agar tidak menjadi sebuah bencana seperti ini.”
            “Memangnya kau tahu apa yang kurasakan? Dendam ini sudah membatu!”
            “Persetan kau!”
            “Tahanlah, biarkan masalah ini menjadi rahasia diantara kita bertiga. Kita cari solusinya bersama-sama..”
            “Malam yang gelap itu aku berkumpul di pos kamling yang dibaluti sepi. Disitu ada kau, kau juga. Bersama dengan Mbok Sari dan Mbak Yem juga. Memandangi televisi bersama.”
            “Pak Mamad kan santai-santai saja disana. Malah aku lihat ia tertawa bersamamu. Berbagi kopi juga.”
            “Dengarkan ceritanya dulu, jangan memasang nada emosi. Tahan dalam-dalam.”
            “Memangnya kau tak memasang telinga saat itu? Ia begitu menyudutkanku. Kau, kau juga.”
            “Menyudutkan apanya? Apa yang kau maksud?”
            “Kau saja yang terlalu terbawa perasaan, bodoh! Aku tak mau ibu dan bapak mengetahui dan kecewa atas perbuatan kita.”
             “Wira! Apa yang sedang kau bicarakan?” ibuku heran.
            Kami ditikam panik seketika, menjadi salah tingkah dan mengecilkan suara dari masing-masing. Menjaga masalah rapat-rapat. Membesarkan musik dari penyanyi yang diidolakan setiap dari kami. Iwan Fals. Biasanya setiap ada masalah yang menyudutkan lagu Iwan Fals menjadi sebuah mantra penenang dari permasalahan yang dihadapi bersama.
            Menyalakan rokok dengan pelan. Tangannya masih gemetar menahan emosi, wajahnya siap memburu Levi, tokoh penyebab dibalik semua ini. Kakinya tak mampu dikuasainya agar tenang. Terus bergerak atas bawah dengan cepat, layaknya seorang drummer musik keras menyuarakan bass drum.
            “Sudah, kopi dulu biar tenang, biar gak panik..” menyodorkan secangkir kopi lasem yang aku beli di warung kopi tadi. Reza mengangkat dan menikmatinya. Menarik nafas panjang, lalu mengubah raut wajahnya dengan instan. Pertanda ia mampu mengendalikan amarah.
            “Kau jangan terbawa emosi dulu, nanti ibu tahu malah sulit kita mengelak. Kita kan juga tidak mau bocor sampai orang diluar kita tahu.”
            Levi dari tadi membalas tatapan yang Reza lancarkan. Maklum diantara kita bertiga sebenarnya yang mudah tersulut adalah Levi. Biasa diantara kami memberinya julukan sumbu pendek. Mudah sekali rasanya kata-kata umpatan mengalir dari mulutnya yang pecah-pecah. Bahkan nyamuk yang mencicipi darahnya mampu menghasilkan kata “sikak” –umpatan khas Magelang— yang memenuhi rumah nadanya, membuat ibu terbangun dari tidurnya.
            Menarik secangkir kopi, menuangkan perlahan dari cangkir ke dalam mulutnya, Reza memulai sebuah cerita kembali.
            “Perhatikan, blog!  Disini yang salah bukan saya.”
            “Teruskan saja ceritamu, cerewet!”
            “Setan kau!” menggenggam tangannya, diarahkan pada Reza.
            “Sudah, teruskan. Kami ingin tahu yang lebih dalam, mungkin saja kau bisa membuat Reza percaya dengan yang kau alami.” Mengusap dadanya.
            “Pak Mamad malam itu mempermasalahkan kebiasaan yang sering kita lakukan. Seringkali kita tak membersihkan gelas dan piring sehabis kita pakai di pos kamling...”
            “Bodoh sekali kau! Seperti itukah alasanmu sehingga membunuh orang yang sudah beranak istri?”
            “Sudah cukup kunci mulut kotormu itu rapat-rapat. Biarkan aku meneruskan,”
            “Wira! Sudahkah kau minum obat yang dokter Novita anjurkan? Kalau belum cepat minum agar kau bisa tenang.” Perintah ibuku memotong pembicaraan yang mulai serius.
            “Sudah, Bu.” Aku menjawabnya agar memberinya ketenangan. Aku masih ingin mendengarkan dan menemukan solusi dari permasalahan yang mengancam kita bertiga.
            “Begini, bukan itu yang membuat saya gelap mata hingga menghantamkan kayu tanpa ampun. Seusai menyalahkan kita, ia menyerang kita dengan umpatan. Mengungkit bahwa kita anak yang aneh. Kata cacat juga sempat ia katakan tanpa berdosa. Menjejaliku dengan kata psychopat, gangguan jiwa, dan orang gila. Aku sempat mampu menahan luapan emosiku yang sudah mendidih.”
            “Lalu?”
            “Sepertinya ibumu dan bapakmu yang sering beribadah jamaah di Masjid itu lupa membaca doa ketika hendak membuatmu. Itu kata yang tak mampu ku tahan. Kau juga mendengarnya dengan jelas, bukan?”
            “Asu! Memang seperti itulah Pak Mamad, terkadang kelewatan batas bicaranya.”
            “Ketika hendak pulang, ia berpamitan dengan kata, pulang ah ngantuk bosen berbicara dengan satu orang yang aneh. Ketika ia menunjukkan punggungnya yang kekar itu pada kita, aku langsung menghantamnya dengan papan kayu yang biasa kita gunakan untuk main karambol. Berkali-kali menyentuh kepalanya dengan keras.”
            Kami seketika hanyut dalam diam, melanjutkan secangkir kopi yang mulai mendingin. Berpikir apakah yang Levi lakukan merupakan sebuah pembelaan yang mulia, atau sebuah pencorengan nama terhadap keluarga.
            “Kamu sedang apa sendirian di teras? Cepat masuk ke dalam, langit sudah mulai menunjukkan tanda-tanda hujan.” Pinta Ibu.
            Aku menghentikan pembicaraan yang sedang kita selami. Menganggap Levi ada benarnya juga, memutuskan sebuah solusi agar menjauhi bahan obrolan ini lagi. Melangkahkan kaki masuk. Kamar adalah tujuanku. Menjauhi ayah dan ibu karena entah kenapa muncul rasa bersalah menghadap mereka.

            Membuka kamar dengan tangan yang tegang, dengan gemetar yang menguasai seluruh tubuh. Bertemu pintu biru, dengan “Skizofrenia” bergaya graffiti yang aku gambari.  Sesegera membuka lalu menutup, mengharap ibuku tak mengetahui apa yang memenuhi kamarku. Menghidupkan rokok yang mati, karena sebenarnya tidak diperbolehkan asap rokok seenaknya beterbangan di langit-langit rumahku. Menenangkan diri, sembari memindahkan Pak Mamad. Menendangnya ke kolong kasurku yang lumayan kecil, menutupinya dengan kain seragamku yang sudah usang. Aku tak memperdulikan seragamku, toh logo OSIS sudah memudar. Juga di dada kanan yang bertuliskan “Reza Pahlevi Wirananta” yang sudah tak terbaca.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images