Cerpen Amatiran - PRIA BERCAHAYA DI TENGAH MALAM

23.09


Di seluruh sudut desa Karangayu telah terjadi kehebohan yang mungkin tak pernah terjadi seperti biasanya. Desa yang tak jauh dari jalan pantai utara jawa itu mirip seperti desa yang lainnya. Semua orang yang punya pekerjaan bekerja demi menafkahi keluarga, yang tak punya pekerjaan merokok dan menyeruput kopi dengan santai meski sebenarnya memikirkan ingin memiliki pekerjaan, dan anak muda kesana kemari kelayapan dan yang berpacaran seperti biasanya. Meski tak terlalu maju, di jaman sekarang keadaan desa telah berubah, tak seperti sepuluh tahun yang lalu. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, hampir semua tak jauh dari ponsel pintar dalam menjalankan segala kebutuhannya.
Omongan yang telah menyebar dari satu mulut ke mulut lain itu begitu cepat. Tentang seorang penyair yang pulang berdarah-darah di tengah malam. Kata ibu-ibu di media pergunjingan tukang sayur, segala kemewahan langsung ada di rumah penyair tersebut setelah ia menghilang sebulan lebih. Sudah paham semua bahwa menjadi penyair hampir tak pernah bisa merasakan kemewahan. Apalagi, penyair yang lama menghilang itu datang dengan bercahaya, seperti orang suci yang disinari malaikat. Sudah agak lama hal berbau mistis ataupun yang diluar nalar tak pernah terjadi atau dibicarakan. Dahulu, terkenal beberapa warung makan yang menggunakan jin penglaris di desa itu. Namun semuanya sudah berubah dan bersaing dengan sehat. Mungkin jin dan hal berbau mistis lainnya sudah bosan tak dibutuhkan lagi di jaman sekarang dan memilih menjauh, mungkin ke laut utara.
Aku pernah mendengarnya langsung dari seorang penjual kopi di tengah malam. Ia melihatnya langsung, penyair itu terseok-seok melewati warkop dan tak menyapa. Hingga penjual itu menanyakan darimana ia lama tak terlihat, penyair itu dengan jawaban singkatnya: dari antah berantah.
Jawaban macam apa itu? Pikirku. Seorang penyair yang sekarat itu menjawab sok puitis padahal keadaannya mengenaskan. Ditambah dengan sombongnya ia tak mau dibantu untuk diobati lukanya, ia hanya memilih pulang dan beristirahat. Bisa jadi ia tak ingin segala harta yang ada di saku kanan kirinya terjatuh dan diambil oleh penjual kopi tersebut.
Aku sebenarnya tak pernah mau percaya dengan omongan orang-orang. Di desa kami yang lokasinya jauh dari kota besar, tak mungkin menjadi penyair langsung kaya dalam hitungan minggu. Tapi pikiranku dibungkam ketika anakku yang berteman baik dengan Mukidi, anak penyair itu, menunjukkan foto kemewahan di rumah sederhananya. Nampak jelas motor Ninja baru terparkir di ruang tamunya. Ditambah segala perabotan dan hiasan dinding yang terlihat mahal. Aku sampai bergetar memengangi ponsel pintar anakku dan hampir jatuh karena terkejut.
Kejadian itu memberi dampak besar pada desa ini berhari-hari meski penyair itu telah pergi lagi entah kemana. Banyak teman dekatnya ingin tahu bagaimana ia kaya, bahkan sampai berjam-jam bertamu untuk mengamati, namun nihil yang mereka dapatkan. Mereka menjadi kebingungan karena jawaban khas penyairnya yang terlalu bertele-tele dan menutup-nutupi. Banyak asumsi yang tak pernah terdengar dibicarakan kembali. Beberapa orang menduga-duga ia menjadi babi ngepet di suatu desa, tertangkap dan dipukuli habis-habisan. Dan terjadi lagi budaya masa lalu, dimana orang-orang mulai mencari jimat pesugihan lagi karena iri dengan segala kemewahan yang didapatkan oleh sang penyair. Namun yang mengganggu pikiranku bagaimana cahaya menyinari tiap langkahnya ketika ia pulang. Mungkin mereka tak terpikir sampai disitu.
***
Sepulang kerja aku sempatkan menyeduh kopi di warung kopi tempat “orang suci” itu lewat. Sudah hampir dua bulan penyair itu lewat di tengah malam dan menghebohkan desa bahkan satu kota. Ketika kopi datang dengan uap dan aroma yang menggoda, mungkin aku berpikir segala lelahku akan rontok seketika. Namun naas, semua kegaduhan di dalam warung kopi itu menggangguku. Semua membicarakan penyair, penyair, dan penyair yang sudah bosan untuk aku pikirkan. Tapi di ujung warung ada Mukidi, yang dengan bangga bercerita, dan bertingkah seperti orang kaya baru. Tak sengaja perhatianku pun terpancing untuk mendengarkan.
“Sebenarnya aku hanya ingin punya Ninja karena si Sari yang kutaksir lebih tertarik pada orang yang bermotor keren. Aku pulang hari itu dan berdebat meminta dibelikan. Bapak langsung naik darah. Ia menamparku keras sampai pipiku merah semerahnya. Aku sampai hampir menangis dan tanpa sadar mengancam tak mau bersekolah bila tak ada Ninja.” Ungkapnya dengan sedikit tertawa dan sedikit menahan malu.
“Setan kau! Tak tahu malu meminta motor pada Bapakmu yang cuma pembuat puisi.”
“Haha aku memang berdosa waktu itu. Tapi mungkin karena itulah aku bisa yakin beberapa puisinya bisa saja langsung didengar Tuhan. Ia hanya perlu waktu mengasingkan diri. Sama seperti ketika ia setelah menamparku, katanya, akan aku pikirkan. Aku perlu waktu sebulan menjauhi keramaian. Aku tanya, Bapak mau kemana? Bapak akan mendapatkan uang dengan cepat, tentunya dengan puisi Bapak, satu-satunya yang bisa Bapak hasilkan.”
“Puitis sekali Bapakmu, cuk! Asu tenan! mungkin dia orang suci yang punya mukjizat puisi yang dikabulkan Tuhan. Bapakmu gondrong dan berjenggot. Cocok sekali! Hahaha.”
***
Malam telah begitu larut, ditandai dengan warung-warung sudah mulai tutup dan jalanan desa cuma dilewati satu dua orang. Lampu-lampu jalan kedap-kedip dan angin malam tak karuan dinginnya, menusuk kulit meskipun aku memakai jaket bank yang lumayan tebal. Tepat setelah turun dari bis kota yang mengantar tepat di jalan kecamatan, di pinggir jalan pantura. Aku harus membanting tulang begitu keras, seperti lembur, untuk mendapatkan rezeki yang lebih. Aku begitu cemburu pada keberuntungan penyair itu.
Mungkin kisah tentang penyair itu begitu merasuk ke pikiranku pelan-pelan, tapi dalam. Ketika berjalan sendirian di tengah angin malam yang dingin pun aku memikirkan puisi apa saja yang jadi favorit penyair itu, salah satunya pasti joko pinurbo yang pernah ia bacakan puisinya di acara kantorku dahulu.  Aku membuka ponsel pintar dan mencari joko pinurbo, ada kutipan “kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Dan kakiku melangkah sendiri menuju warung kopi. Dasar orang suci!
Memang benar, ketika aku memikirkan penyair itu, dan ada kutipan puisi tentang lemburku, aku merasakan dia memang benar orang suci. Di warung kopi yang sama, kopinya entah kenapa terasa begitu nikmat setelah membaca kutipan tersebut. Penjualnya sampai kebingungan melihatku tersenyum ketika menyeruput pelan-pelan.
Di warung kopi hanya ada aku dan penjual. Suasananya hanya sunyi. Selain motor yang lewat terakhir mungkin begitu kosong, karena jam sudah menunjuk angka 1. Kopiku begitu nikmat jadi aku sayang untuk menghabiskannya. Hanya diam menghibur diri dan membaca puisi-puisi yang menarik.
Tiba-tiba ketika sudah tak ada satupun orang atau motor melalui, orang yang aku pikirkan akhir-akhir ini lewat. Orang berpakaian lusuh, dipenuhi banyak darah. Seorang penyair itu terseok-seok, seperti yang dikabarkan, lewat tempat yang sama. Aku memandanginya benar, kakinya terasa begitu ringkih dan seluruh tubuhnya tak bertenaga. Namun mataku dibuat terbelalak. Selain darah, tampilannya yang berjenggot dan berambut panjang disinari cahaya kemanapun ia berjalan membuatnya seperti benar-benar orang suci. Angin pun seperti tak berhembus terlalu dingin di sekitar orang itu.
Sekitar dua meter sebelum melewati muka warung kopi, ia terjatuh. Aku langsung sigap berlari dan membantunya duduk. Kuperhatikan sekitar, ia memang begitu parah. Luka seluruh tubuhnya tak karuan, bisa dibilang sekarat. Mungkin ia kehabisan darah, karena setiap langkahnya berupa darah yang membentuk alas kaki. Aku berteriak lantang meminta bantuan, penjual kopi berlari menuju rumah terdekat dan meminta bantuan dari satu rumah ke rumah lain.
Ketika banyak orang sudah berkumpul, keadaan sudah begitu terlambat. Nyawa orang suci di desa sudah melayang, dan hanya meninggalkan jasad yang bercahaya. Dengan aku yang membopongnya, persis seperti lukisan orang suci berjenggot berambut panjang yang mati di pangkuan seseorang.
Dan sejak hari itu desa Karangayu ramai dikunjungi beberapa wisatawan. Mereka datang dari berbagai kota, penuh rasa penasaran dengan orang suci yang dibicarakan di media sosial. Mereka merahasiakan penyair itu punya seorang anak remaja yang sudah hidup tenang dengan uang yang cukup sampai lulus kuliah. Penduduk desa memakamkan dengan penuh kemewahan, tak kalah seperti wali yang lain. Yang mengganggu, bahkan banyak yang hingga meminta sesuatu kepada makam itu.
Sebenarnya ada yang tak mereka tahu dengan orang suci yang mereka banggakan. Penyair yang jadi inspirasi banyak orang itu berbisik kataku pelan sebelum mati, dengan nada meronta seperti dicabut nyawanya. Ia memberitahu bahwa sebenarnya anaknya sekali lagi merengek. Kini ia ingin kuliah. Awalnya ia pernah menjual puisi ke seorang waria dan memberinya uang yang lumayan. Namun kenyataan tak berjalan mulus. Ia butuh waktu dan siksaan yang berat agar memenuhi anak semata wayangnya. Tak seperti yang dibicarakan banyak orang, sebenarnya ia hanya pria gondrong biasa. Ia hanya seorang budak yang disodomi delapan gay berminggu-minggu, dan dicambuki dalam bersenggama. Ia mendapatkan uang dan pengakuan malaikat dari kejadian yang tak pernah orang pikirkan sama sekali.
***

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images