Cerpen Amatiran - Hilang
02.42
Hilang
Oleh
Reza Pahlevi Wirananta
Menuju
tengah malam, angin sedang bergerak tak teratur. Penuh murka, sehingga dinginnya
menusuk tulang, melalui celah pori pada kulit. Angin yang tak diinginkan selalu
datang. Untungnya, pepohonan tua melindungi rumah kami. Melingkar, bagai tangan
seorang ibu yang memeluk erat anaknya, enggan anaknya hilang. Di hutan-hutan di
sudut barat Magelang ini seperti kontras dengan bagian utara. Utara selalu
terang menghangatkan semua penghuni. Di sudut ini sangat sepi, bahkan cahaya
enggan berkunjung sejenak. Hanya sedikit sisa-sisa sinar dari lilin yang menjaga
kami dari kebutaan.
Pukul
setengah satu tokek menyebarkan suara di rumah kami dengan lantang, seperti
sebuah seruan pengumuman dari toak masjid. Aku di atas meja dengan sebatang
rokok dan kopi hitam dengan uap yang bertarung dengan air dingin. Tanganku
menggenggam sebuah koran baru, yang dikirim oleh tetangga kami, di beberapa
kilometer dari rumah ini. Membaca dengan hati-hati, memilah kata demi kata,
mencerna beberapa paket informasi yang diberikan. Rasa bosan merayuku, namun
tanggung jawab bak memburuku agar tidak gampang lengah.
Sesekali
mataku menengok ke pintu tua yang menjadi jalan masuk rumah kami. Sudah banyak
rusak di permukaannya, bahkan dipenuhi beberapa lubang karena memang tak pernah
dihuni beberapa tahun. Di depannya ada seorang wanita, seumur lulusan
perkuliahan. Matanya sipit berbinar, sedikit ada air mata, melawan rasa kantuk
yang menggores matanya pelan-pelan. Dengan mendengarkan alunan lagu barat yang
tak kutahu apa artinya, ia ikut menyanyikannya pelan-pelan. Menghadap sebuah
novel usang. Tubuhnya sesekali bergetar ketika angin menusuk bak tombak di punggungnya.
Ia sengaja menyakiti tubuh mudanya, agar angin tak masuk merusak suasana tidur
anak-anak di dalam rumah ini.
“Kau
belum mengantuk?” sesaat setelah ia melihat mataku menuju padanya.
“Belum,
kopi ini membuatku terjaga.” Jawabku malu-malu.
“Jikalau
sudah tak tahan, lebih baik istirahat dulu, agar besok energimu penuh lagi.
Lagian tanpa bantuanmu, kami sudah kesusahan.”
“Tidak,
aku sedang senang dengan berita hari ini. Aku ingin menamatkannya sampai habis.
Jikalau sampai tamat belum juga kantukku datang, aku akan berusaha tidur
sehabis sholat shubuh nanti.”
“Jangan
merasa tidak enak padaku yang belum tidur ya, Pi.”
“Lagian
menemanimu membuatku senang.” Aku merayu malu-malu, ia balas dengan senyuman
yang bahkan lebih manis dari Pevita Pearce, artis idolaku.
Aku
meneruskan bacaanku dengan santai, agar tak lepas informasi penting yang harus aku
dapatkan. Mulai dari sebuah berita tentang sepak bola tim nasional yang tak
bangkit-bangkit, artis yang memamerkan anak-anaknya agar mereka ikut terkenal,
sampai informasi koruptor yang tak berhasil ditangkap. Jikalau ada satu
informasi tentang pencarian orang, akan aku potong dengan gunting berkarat dan
menempelkannya di sebuah kliping.
***
Matahari
menunjukkan sinarnya dengan gagah, bak menantang semua manusia bumi untuk
bersembunyi. Jam menunjukkan pas tengah hari, ditandai seruan adzan di beberapa
tempat tak jauh dari tempatku ini. Debu-debu beterbangan, suara mengganggu
dimana-mana, dan keringat terus menetes dari beberapa kuli yang berusaha
membangun sebuah bangunan besar. Proyek masih berjalan, namun otakku sudah diserang
pusing, rasanya seperti dihantam dengan kayu besar. Aku meninggalkan proyek
pembangunan ini agar sakit tak menjalar menuju semua bagian tubuhku.
Sedikit
teh dingin dan rokok membuatku nyaman di sebuah warung kecil di depan sekolah
menengah atas. Sepertinya sekolah yang biasa saja, terlihat dari ruang parkir
yang sempit dan beberapa sepeda tua di dalamnya. Siswa-siswi berkeliaran, mencari
kesenangannya masing-masing. Beberapa sepak bola layaknya kebiasaan siswa seumuran
itu, beberapa menuju perpustakaan dekat gerbang masuk, beberapa nongkrong
bercanda tawa. Tak sedikit mencari rokok di warung yang aku kunjungi ini. Suara
gaduh mengusik ketenangan, membuat pusing semakin menjadi. Aku hanya berusaha
menenangkan diri.
Beberapa saat tiba seorang gadis
cantik dengan seragam batik memasuki warung. Wajahnya putih, matanya begitu
indah, jarang wanita memiliki mata sebaik dia. Tingginya mungkin sekitar
semeter setengah, tak sedikit beda dari siswa-siswa yang ada.
“Kalian
lagi, kalian lagi!” suaranya agak berat, sedikit ngebass.
“Siang
Bu Devi!” serentak kompak.
“Kalian
boleh ngrokok, tapi sekarang bukan waktunya. Kalian harus nunggu waktunya pas
tidak sekolah, jangan pakai seragam.”
“Iya,
Bu Devi.”
“Sekarang
balik ke kelas.”
Suaranya membuat siswa-siswa itu takut,
ditambah ekspresinya seperti seorang remaja ngambek itu membuat siswa segera
melarikan diri. Aku hanya tersenyum melihatnya.
“Eh,
Epi.”
Aku
menoleh, ternyata bu guru cantik yang sedang marah tadi menegurku dengan nada yang
ramah.
“Hmm..”
“Epi
sedang ada keperluan apa disini? Apa rumah tinggalmu sekitar sini?”
“Hmm..”
aku mengingat-ingat siapa wanita mungil ini. Ketika aku menelusuri ingatan,
terlintas seorang teman SMP yang dulu pernah kukenal. Kami bertegur sapa dengan
saling wawancara, bercerita, dan sedikit bumbu candaan ketika nostalgia sekolah
dulu. Cerita lama itu begitu dekat, ditambah ketika ia dengan terbuka
bercerita, matanya begitu menyenangkan untuk dipandang.
***
Seusai
membaca buku Ibunda karya Maxim Gorky, aku menyalakan televisi untuk mengetahui
kabar. Hampir semua media menggembor-gemborkan kebangkitan PKI. Televisi yang
sedang kutonton banyak menayangkan isu komunis.
Beberapa
saat ponsel berdering kencang. Devi.
“Halo,
Epi?”
“Gimana,
Dev?”
“Kamu
sedang apa?”
“Sedang
menonton televisi seperti biasa.”
“Berita?”
“Iya.”
“Isinya
isu komunis itukah? Aku ingin cerita sesuatu”
“Iya,
memangnya kenapa?”
“Aku
berhenti dari pekerjaan guru. Aku sekarang sedang di kos dengan anak-anak.”
“Kenapa
berhenti? Siapa anak-anak?”
“Banyak
orang yang diduga PKI ditangkap, mereka ditahan belasan tahun tanpa pengadilan.
Salah satunya orang tua muridku dulu. Banyak anak dari mereka terlantar
sendirian. Aku beberapa tahun ini mengumpulkan informasi dari televisi dan
koran tentang alamat mereka yang ditangkap. Ketika teman guruku mulai tau kalau
aku mengasuh anak-anak korban, aku berhenti. Mereka kasihan. Tapi aku takut,
Epi.” Suara terisak-isak seperti orang yang menangis berduka.
***
Matahari
mulai menunjukkan sinarnya sedikit sedikit. Melewati celah dari pepohonan,
sinarnya mulai masuk dari celah dinding kayu yang retak. Embun masih
bersebaran, membungkusi seisi hutan, rumah, banyak benda-benda di dalam rumah
ini. Sinar yang lolos mengenai wajahku, membangunkanku di pagi yang dingin. Tak
ada suara tetangga maupun penduduk, karena rumah ini di kaki gunung, dan butuh
perjalanan dengan motor untuk sampai kesana.
Devi
sudah tidak ada di dekat pintu, mungkin sudah membuatkan masakan untuk
anak-anak seperti biasanya. Anak-anak pun sudah tidak ada, hanya tersisa kain-kain
yang berserakan. Aku menyalakan rokok, asapnya terbang terbawa angin gunung.
Membaca kliping, lalu bersiap mencari bahan pangan di desa jauh disana.
Seusai
bekerja sebentar di sebuah toko, aku mencari sayur mayur dan tempeh. Di sebuah
warung di pasar aku beristirahat dengan memesan es teh.
“Ternyata
banyak juga ya anggota PKI di Magelang.”
“Iya,
ternyata sedang bersembunyi.”
Suara
lelaki terdengar nyeletuk sembari menikmati nasi rames. Matanya tak saling bertatapan,
namun menghadap televisi. Aku pun dipenuhi penasaran.
“Beberapa
orang yang diduga komunis yang sedang bersembunyi di Magelang sudah ditangkap. Delapan
anak lelaki, tiga anak perempuan, dan seorang gadis berusia dua puluh lima
tahun ditangkap di sebuah rumah di kaki Gunung Merbabu.”
Rasa
kagetku langsung menjadi jadi. Rasanya seperti disambar petir. Aliran nafas tak
teratur, terengah-engah. Mataku melotot. Banyak sekali kejadian tak biasanya
terjadi. Aku langsung membuka ponsel untuk menghubungi Devi, memastikan tidak
adanya kejadian seperti perkiraanku. Ketika hendak menelpon, ada sebuah pesan. “Epi,
tak usah khawatir wanita itu mengganggu karirmu. Kamu fokus saja mencari uang. Buat
dirimu sukses. Ibu sudah memberitahu pihak berwajib untuk menangkap mereka, tapi
membebaskanmu. Cepat pulang, Nak.”
***
0 komentar