CERPEN AMATIRAN - Epi Jampes, Hantu Demonstran

11.35


Epi Jampes, Hantu Demonstran
Reza Pahlevi Wirananta

Seluruh ruangan dipenuhi asap layaknya pembakaran jenazah. Abunya menempel dipermukaan mata, menumpahkan setiap air yang ditampung. Dalam sebuah mangkuk bergambar ayam, api itu menari-nari, seakan menertawakan nasib seorang pria didepannya. Ia hanya memandangi koran yang mulai lenyap. Di ruangan gelap, hanya dengan sebatang lilin. Ia merunduk, meratapi nasibnya. Semua yang sudah dibangunnya ternyata lenyap dimakan kecerobohannya dalam mencari nafkah.
Semua berawal dari sebuah proyek pembangunan sebuah pabrik besar. Sebagai seorang lulusan perguruan tinggi jurusan teknik sipil, sebuah pabrik megah sudah berdiri dalam angan-angannya. Seperti semua proyek yang dilaluinya, semua hampir berhasil dengan sempurna. Semua keberhasilan dirajutnya menjadi sebuah jabatan yang membuatnya bisa dipercaya memegang sebuah proyek kontroversial ini.
Rencana perhitungan struktur, desain, dan rancangan anggaran biaya sudah berada dalam jalur kendalinya. Namun, sebuah batu kecil menghalangi karirnya. Batu kecil berwujud pria kurus tinggi, seperti sebuah kerangka tengkorak dibalut kulit, namun memiliki nyawa dan mampu bersuara. Sebagai seorang mahasiswa perguruan tinggi yang ternama, suaranya mampu menggetarkan hati rakyat sekitar. Sebuah aksi penolakan pun diluncurkan.
Sebenarnya tak ada yang istimewa terhadap seorang pria kurus ini. Ia hanya seorang lulusan yang biasa-biasa saja, menunggu panggilan kerja dengan berdiam di kampung halaman yang membesarkannya. Tampangnya tak rupawan bagi wanita kebanyakan, ia memiliki kepala yang besar sehingga nampak seperti sebuah pentol korek. Nilainya sepertinya tak bagus di perkuliahannya, ia juga tak terdengar akrab dengan kalangan intelektual di kampung sana, mungkin semangat organisasinya di kampus hanya biasa-biasa juga.
Pahlevi, nama yang terdengar sangat menarik bagi orang jaman sekarang. Namun, orang-orang memanggilnya Epi Jampes karena seringnya dia menggaruk bagian kemaluannya. Padahal, ia nampak terampil merawat diri.
Epi Jampes merupakan seorang yang gagal diurus keluarganya, mungkin juga sebaliknya. Ia memutuskan melepas segala kenangan dan hidup sendirian di rumah bekas almarhum kakeknya. Pada masa remajanya, seperti kebanyakan ia menemui seorang gadis. Gadis jawa tak begitu cantik, namun memiliki mata yang indah. Sikapnya sangat tomboy, namun begitu manja di hadapan Epi Jampes. Sebuah cinta monyet, yang diyakini Epi Jampes sebagai belahan jiwanya. Karena hanya wanita itu yang perhatian padanya, karena kasih orang tua sudah mati di mata Epi Jampes.
Setelah bertahun-tahun dan merancang sebuah keluarga yang bahagia, sebuah cinta di masa remaja sulit untuk bermetamorfosis sempurna menjadi sebuah jodoh. Hubungan pun kandas. Sebuah tamparan takdir keras pada mentalnya. Selama berhari-hari ia mengurung diri dan tak mau duduk di bangku sekolah. Guru tak bermasalah padanya, karena ia sudah mahir menulis ala orang tua, sehingga menutupi kepalsuan surat ijin.
Seluruh prestasi buyar entah kemana, seperti pasir pantai yang terbawa angin laut. Semua peristiwa itu menetaskan kemalasan akan hidup. Ia terombang ambing seperti nelayan pemula diatas ombak laut selatan. Hanya minuman keras. Ya, layaknya sebagian remaja lain, solusi sakit hati memang minuman keras. Dengan ciu plastikan, ia mulai merangkak melanjutkan hidup dengan amarah. Seluruh emosinya tak terkontrol, sehingga rasa salah tak pernah masuk kedalam alam sadarnya. Setiap hari, selalu ia tuangkan ciu dalam perasaannya. Dan selalu berekor pada sebuah kerusuhan. Entah sebuah kebun tetangga ataupun pagar rumah Pak RT jadi saksi kebengisan cintanya.
Sabtu siang terasa begitu panas, seakan membakar seluruh perasaan depresi Epi Jampes. Mentalnya yang rapuh karena cinta, mampu meraung layaknya raja hutan ketika bertemu dengan orang yang dianggapnya sombong. Ia selalu memilih menyiksa orang yang pernah membuatnya benci. Jarang ia langsung memutuskan duel di suatu lapangan. Biasanya ia merusak semua lingkungan tempat hidup musuhnya itu. Ia menghambur hamburkan rumput taman, mengoyak pagar menjadi bentuk yang abstrak, dan melemparkan mangga seperti peluru pada kaca jendela. Semua dibuat kebingungan melihat kegilaan itu. Seseorang langsung menangkap dari belakang, memeluk erat. Tak membiarkan pergelangan tangannya bergoyang sedikitpun. Kakinya masih lengah oleh efek samping ciu, ia dengan mudah dirobohkan ke bumi. Tiba-tiba seluruh orang sudah mengelilingi layaknya sudut pandang mayat pada pelayat. Ia ketakutan. Seluruh badannya lemas, keringat bercucuran membanjir di panasnya siang.
“Sudah, hajar saja!” seseorang berteriak di balik kerumunan, membuatnya langsung membisu.
“Tidak usah, kebencian dibalas kebencian semua hanya akan menghasilkan sia-sia. Kekerasan dibalas kekerasan hanya menimbulkan dendam.”
“Epi Jampes sebenarnya orang baik. Kalian pernah jadi saksi perbuatan baiknya kan?”
“Iya, dia sering membantuku membersihkan halaman.”
“Dia selalu mau aku suruh, dan cekatan melakukan perintah. Dia juga tak mengharap apa-apa dariku.”
Tangan berwarna cokelat pucat turun menyentuh kepalanya. Ia memejamkan mata, takut sebuah tamparan keras mendarat di keningnya. Tangan itu menyentuhnya pelan, menggesek-gesek halus layaknya seorang bapak. “Ingat, kami disini keluargamu. Kamu tidak sendirian, Pi. Minuman keras itu bukan solusi.” Wajah pak ustadz tersenyum begitu tulus, tampak dari lekuk keriput yang berbeda dari senyum palsu ketika berfoto.
Sejak peristiwa itulah, Epi Jampes, pria kurus kering selalu menganggap tetangga-tetangganya bagian dari dirinya. Jika ada yang kesusahan, ia tak segan-segan membantu, tak mengharap imbalan sepersen pun. Begitu sebaliknya, seperti sebuah hukum alam terjadi di kampung ini.
Sebuah proyek besar dikabarkan akan bangun di kampung halaman Epi Jampes. Sebagai seorang lulusan mahasiswa, ia mengamati semua dampak yang akan terjadi. Entah baik ataupun buruk, dengan cermat ia teliti dan rundingkan bersama warga kampung. Sebagai sebuah kampung yang dipenuhi ladang sawah, kampung ini dipercaya sebagai lumbung pangan kabupaten dan sekitarnya. Namun kedatangan proyek pabrik itu akan melahap ekonomi petani dan warga kampung lainnya. Kabar ini mampu membuat Epi Jampes dan warga gerang, sampai melancarkan sebuah aksi penolakan yang beranak pinak.
Kabar penolakan menyebar cepat, menelusup surat kabar dan media massa lainnya. Tangan pria itu gemetar, karena baru sekali ini proyeknya mendapat tolakan yang keras. Kawan sekerjanya berusaha menenangkan: “Aksi seperti ini sudah biasa dalam pekerjaan kita. Yang harus kamu lakukan hanya menutup mulut para orang-orang kampung itu.”
Dengan berbagai cara sudah ia laksanakan agar mulut para warga kampung diam. Dengan beberapa lembar bergambar Soekarno-Hatta sudah sedikit meringankan beban di pundaknya. Namun selalu aja ada aksi yang tergelar di sekitaran lahan pembebasan. Bahkan semakin banyak, terbangnya aktivis mahasiswa dari berbagai daerah membuat media semakin senang karena banyaknya berita yang bisa dimuat, bisa jadi ladang rupiah terus mengalir ketika mencetak surat kabar. Ditambah, poster-poster penolakan dan nyanyian yang membuat pria itu bermimpi buruk: “Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin kota..”
Seperti ada setan yang membisikkan telinga, pria itu mencari dan membayar pria-pria berotot yang mampu menjaga karirnya. Pria-pria yang tak takut mati, hobi memberikan ketakutan, yang berprofesi sebagai preman dari berbagai sudut jalanan. Pria itu memberi jaminan agar keluarga preman-preman bisa makan berbulan bulan ditambah uang untuk minuman keras. Hanya satu yang harus mereka lakukan: Bungkam mulut mereka agar tak menjalankan aksi penolakan.
Beberapa hari membuahkan berita yang bisa membuatnya bernafas lega. Pada hari pertama perintah, sudah berkurang beberapa aktivis yang ikut aksi. Berhari-hari berikutnya, sudah turun drastis, hanya beberapa orang luar daerah yang dianggapnya hanya pahlawan kesiangan. Bahkan suara pentolan Epi Jampes sudah tak terdengar lagi, mungkin mulutnya disumpal lembaran uang.
***
Dalam sloki-sloki minuman keras, kesedihannya mulai makin terasa nikmat. Keheningan malam seakan merayu pria itu agar terus bersedih, jangan berhenti sampai air matanya kering. Pandangan matanya yang sempoyongan berusaha menatap kobaran api koran yang sudah mulai menjadi abu sepenuhnya. Tangannya mengepal penuh dendam. Teriakannya memenuhi komplek perumahan yang sangat sepi ketika malam datang. Istri dan seorang anaknya hanya menatap dari balik gelap, di sela pintu yang sedikit terbuka. Mereka bukan tak ingin menghentikan kesedihan pria malang itu, namun takut jika si pria mulai melepaskan umpatan dan pukulan tak kenal ampun.
Pria itu terus meneriakkan nama Epi Jampes. Epi Jampes bajingan! Epi Jampes anjing! Epi Jampes, maafkan saya!
Pria itu dilahirkan di keluarga yang modern, selalu menatap karir di masa depan, tanpa mengenal hal mistis semasa hidupnya. Epi Jampes menurutnya sudah menjadi hantu yang membuat akal sehatnya mulai tumpul. Ia membencinya, namun juga takut jika malam ini Epi Jampes berubah wujud menjadi sejenis pocong, genderuwo, maupun merasuki benda sekitar dan mencelakainya seperti beberapa pekerja yang pernah ia percaya.
Dalam beberapa bulan di kampung ini, seringkali terjadi hal yang tak diinginkan oleh setiap penanggung jawab proyek pembangunan. Beberapa alat berat yang membantu proses tiba-tiba kehilangan fungsinya. Pernah sebuah excavator macet. Truk pengangkut pasir tumpah sebelum mencapai tempat. Yang paling parah, crane yang biasa mengangkut alat dan bahan pembangunan ke lantai atas, tiba-tiba ambruk dan menimpa dua pekerjanya. Seketika mati.
Beberapa kuli dan warga sekitar pernah mengabarkan cerita horror di tengah proyek yang berjalan. Semua keresahan karena tidak ada restu dari Epi Jampes. Epi Jampes diduga telah hilang dari kampung halaman, dan warga sudah melaporkan ke media cetak. Fotonya tersebar kemana-mana, namun tak ada seorangpun tahu dimana Epi Jampes sekarang hidup. Bahkan beberapa preman melepas tanggung jawab setelah mendapat uang, sebelum memberikan kabar terang kepada pria itu. Pandangan pria itu gelap gurita, semangat mencari nafkahnya runtuh, proyek pembangunan pabrik molor beberapa bulan. Pria itu kehilangan semua teman, ketika berniat meminjam uang untuk membayar semua resiko lepas dari tenggat waktu penyelesaian.
Pria itu selalu menangis tiap jamnya, hampir 24 kali bahkan lebih tiap harinya. Semua hasil yang sudah diperolehnya harus dilepas kembali. Harta benda hanya dinikmatinya sesaat, untuk membayar ganti rugi. Kini hanya punya kontrakan kecil, dengan anak istri yang setia menemani. Namun matanya sudah terlalu gelap. Tidak mencari akal sehat, malah setiap waktu ia habiskan untuk menangisi yang sudah hilang. Semua uang yang tersisa ia belikan minuman keras dan beberapa rokok filter. Istri dan anaknya pun hilang, seperti tiap asap yang terbakar dan ia hembuskan. Kesabaran mereka tak berkunjung pada pria itu, jadi mereka harus menemukan orang lain demi masa depan anak lelaki yang berusia sembilan tahun itu. Naasnya, istrinya menikahi pejabat yang dulu pernah mengakuinya teman. Lebih naas lagi, mereka membawa pria itu ke sebuah rumah sakit jiwa di ibukota.
Dalam suatu pagi yang baru di sebuah rumah sakit jiwa, ia terbangun disebuah ruangan yang gaduh. Suara dan teriakan dimana mana. Entah lelaki maupun perempuan, suara mereka begitu berbeda dan saling adu keras melebihi suara penonton konser. Ia hanya mengumpat: Wedokan Asu! Umpatan yang berulang dan membuat beberapa perawat mendatanginya. Mereka nampak tidak jelas wajahnya, hanya mata yang nampak, mulut tertutup masker.
“Sudah bangun ya, Pak!”
“Bagaimana tidurnya? Anggap saja rumah sendiri, disini bapak bebas melakukan apa yang bapak suka!”
Asu kabeh!”
Mereka membuatnya muak. Namun bila pria itu kabur dari sini, kemana dia harus pergi? Nada ramah mereka mulai terbiasa di telinga. Pria itu habiskan waktu yang tersisa di ranjang dengan mengata-ngatai takdirnya sesuka hati, tak peduli pada malaikat yang mencatat. Toh, ia merasa mereka menjebak dengan dia yang yakin punya sedikit akal sehat tapi dipaksa masuk neraka kecil berbentuk rumah sakit jiwa.
“Saatnya makan siang, Pak!” suara perawat dengan membawa beberapa piring berisi nasi dan lauk seadanya. Perawat itu nampak tenang, karena seluruh perawat lain kewalahan dalam membujuk pasien gila lainnya.
“Terima kasih, Asu!”
“Memangnya bapak tidak tau asu seperti apa? Asu itu anjing, lihat, saya manusia, seperti bapak.” Jawab ia ramah, sembari membuka masker.
Pria itu sontak melotot hampir melepaskan bola mata. Matanya menganga, namun tangannya bergetar ketakutan. Jantungnya hendak berhenti beberapa detik karena tidak sanggup menatap hantu masa lalunya: Epi Jampes. Benar, di dadanya tertulis Pahlevi. Tangannya mencoba memegang pipi Epi Jampes. Mengusap pelan, merasakan kenyataan.
“Kamu belum mati seperti yang diberitakan koran?”
“Belum, Pak. Jadi Bapak masih agak sadar, ya? Hahaha. Saya ikut aksi yang diberitakan koran soalnya sembari menunggu kerja di kampung halaman. Saat dapat panggilan kerja, saya langsung pergi. Saya tak punya keluarga, jadi tidak ada yang tahu. Sekarang sudah saya konfirmasi ke koran-koran itu, kok.”
Tiba-tiba hujan air dari kantung mata menetesi ranjang rumah sakit. Bau obat, air mata, dan bau orang-orang tak pernah mandi becampuran mengganggu. Seketika ia merasa terbang, otaknya mulai goyang layaknya orang mabuk. Hahahaha! Tawanya memenuhi udara, melewati Epi Jampes, lalu keruangan lain dan terdengar keras sampai halaman depan rumah sakit jiwa. Suaranya tak henti-henti, semakin lama sampai suaranya benar-benar habis, juga akal sehatnya.
***

Magelang, 10-10-2018

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images