Cerpen Amatiran - DOA PALING ANJING
18.27
Suara
lolongan yang berada dibalik tembok besar itu selalu mengganggu malam hening
kami. Suara dari seekor anjing yang tak tahu artinya, tapi aku yakin itu
seperti sebuah nyanyian atas kebahagiaan yang ia terima. Atau mungkin saja, itu
hanya sebuah sindiran kepada kami, keluarga manusia miskin yang tak bisa makan
seenak dirinya.
“Bagaimana
nafsu makanku bisa lancar jika ketika makan harus mendengar lolongan anjing
bajingan itu? nasi tempe bukanlah hal yang tidak enak. Meski hanya sederhana,
tapi lolongan itu membuat rasanya sepuluh kali lebih tawar.”
Bolot
pernah mendengar tentang kebahagiaan anjing milik Pak Novanto itu. Konon
katanya, anjing itu telah diberi nama Cendana dan sudah menjadi bagian dari
kartu keluarga Pak Novanto. Karena semua putra kebanggaan yang lulus kuliah
luar negerinya sudah berkeluarga dan hanya setahun sekali mampir kerumah, Pak
Novanto kini hanya memiliki anjing yang sudah dianggapnya seperti anaknya
sendiri.
Bolot
sering sekali melamun, ketika sesekali anjing itu dibawa jalan-jalan oleh Pak
Novanto untuk menguatkan otot kakinya dan agar tidak terkesan anjing manja.
Namun, dari baunya saja, anjing itu lebih mewangi daripada seluruh isi keluarga
dirumah Bolot. Jika dilihatnya lebih dalam, Pak Novanto selalu memakai pakaian
yang mewah dan hanya bisa makan makanan yang dijamin kesehatannya.
Namun,
suatu ketika sebelum anjing itu melewati rumah reotnya, seorang tetangga mampir
kerumah Bolot. Dari semua topik bahasan di dunia hanya anjing Pak Novanto yang
mereka anggap penting untuk dibahas. Betapa tidak masuk akalnya, untuk seekor
anjing, Pak Novanto rela sehari merogoh saku hampir sejuta. Dengan menatap
langit-langit menghitung berapa banyaknya uang itu, Bolot bisa menyimpulkan
sekitar sebulan setengah biaya makan keluarganya penuh, lengkap dengan ketiga
putranya.
“Andai
saja Pak Novanto lebih peduli terhadap tetangganya yang kere daripada anjingnya
yang hanya bisa berlari dan berliur itu.” ungkapnya di suatu sore melamun di
depan teras, sehabis Cendana lewat dengan lincahnya.
“Biarkanlah
anjing itu bahagia, Mas. Mungkin di kehidupan sebelumnya dia manusia yang kere
seperti kita. Bajunya compang-camping, penyakitan. Bersyukur sedikit kenapa.”
Celetuk Yem, istri Bolot ketika membawakan teh hangat.
“Mungkinkah
aku kalau mati terus hidup lagi, bakal jadi anjing orang kaya seperti anjing
bajingan itu, siapa itu, Cendana?”
“Mungkin
kalau mas mati dan hidup lagi, mas bakal jadi anjing juga. Anjing orang kere
yang penyakitan. Haha.”
“Kau
ini, sudahlah, kau tak bisa diajak berpikir tentang kehidupan.”
“Lagian
orang kere sok-sokan berpikir kehidupan kedua, hidup sekarang saja sudah susah
payah.”
Justru
karena pembicaraan tentang anjing itu, Bolot mulai merasa kehidupannya menjadi
manusia adalah hal yang salah. Bolot sudah mendaftar sana sini, meski dengan
ijazah SMP, tetap saja ditolak. Dari tukang cuci motor, jaga warnet, tukang
service AC, bahkan marbot masjid semua menolak Bolot. Doanya pun tak pernah
putus untuk bisa menjadi orang kaya, dari sehabis sholat, sebelum makan, bahkan
ketika berada di WC. Ketika merasa doanya ada yang keliru, ia sudah membeli
buku bekas berjudul “doa yang benar agar dikabulkan” dan berakhir sia-sia
membuang uang makannya.
Ketika ia bercerita kepada kawan,
tetangga, atau istri kesayangannya tentang semua usaha kerja kerasnya, ia hanya
mendapat celaan bahwa ia kurang bersyukur dengan apa yang ada. Ia mulai
berpikir keras agar berpikir positif. Ia segera mengucap hamdalah setelah
melakukan apapun agar iri dengkinya kalah cepat menguasai. Ketika ada kerjaan
serabutan untuk memungut sampah tiap rumah, ketika disuruh mengganti genteng
yang bocor, ketika ia membersihkan selokan, selalu ucapkan Alhamdulillah.
Namun setiap sore pemandangan kibasan ekor ke kiri-kanan Cendana selalu merusak
perasaan bersyukur yang ditanamnya dari awal hari. Hingga suatu hari tanpa ada
pekerjaan serabutan sama sekali, anjing itu kebetulan dibawa lewat dua kali di
muka rumah, mulai hari itu juga rasa syukurnya hilang. Ia tak percaya lagi
dengan motivator yang selalu bilang kunci kebahagiaan adalah bersyukur. Bahkan
saat ada khotib Jum’at yang berucap tentang pentingnya bersyukur, saat itu juga
Bolot memilih pulang ke rumah dan tidak sholat Jum’at.
***
Suatu
ketika dalam perjalanannya pulang mengecat sebuah taman kanak-kanak Bolot
bertemu seorang berbaju putih dengan janggut memanjang yang juga putih. Seperti
biasa, Bolot melamunkan nasib kerenya, dan ditegurlah oleh kakek tua itu.
Ketika ditanya kenapa melamun, apakah apa masalah, Bolot langsung merasa dan
menyimpulkan telah bertemu orang suci. Tanpa rasa sungkan dengan panjang lebar
Bolot menceritakan masalah yang sedang ditanggungnya. Perihal kebenciannya pada
banyak hal; kemiskinan yang tak kunjung berhenti, keluhan istri, makan tak
pernah enak, bahkan Cendana, anjing milik Pak Novanto tetangganya yang kaya. Begitu
rinci, lebih lama dari khotib ketika kotbah Jum’at. Namun ajaibnya kakek tua
itu tidak mengantuk, malah memberikan sebuah wejangan: Jika kamu begitu
membenci sesuatu, lihatlah sesuatu itu lebih dalam dan pikirkan apakah ada hal
baik yang bisa diambil dari yang kamu benci. Lalu jangan lupa berdoa untuk
kebaikan itu.
Wejangan
singkat yang ditemui pun langsung diterapkan. Mulai hari itu, ketika melamun
memandang langit-langit rumahnya, genting yang berlubang-lubang pasti karena
Tuhan ingin ia memandang bintang-bintang. Omelan istrinya ketika ia bangun
siang dan malas-malasan pun ia anggap sebagai kasih sayang karena
memperhatikannya.
Namun
sebenarnya kebencian terdalamnya adalah Cendana. Meski air liur atau kotorannya
tak pernah mengotori halaman rumah Bolot, segala gerak geriknya selalu
membuatnya tak suka. Lolongannya sudah menjadi mimpi buruk, mungkin sampai
matinya, jika ia tak kunjung kaya juga.
Dalam
beberapa kesempatan, ketika anjing itu lewat depan rumahnya, ia mulai
memperhatikan, apa yang baik dari tingkah laku hewan sialan itu. Tingkah
lakunya yang lincah itu sebenarnya menggemaskan juga. Semakin hari semakin
diperhatikan, Bolot mulai terlihat tertarik pada anjing itu.
“Anjing
itu lucu juga ya, Yem. Terlihat gemuk, tidak seperti anjing, malah seperti anak
babi yang lucu.”
“Otakmu
konslet ya, Mas? Kemarin-kemarin kau selalu mengumpat ketika anjing itu lewat.
Sekarang kau mengatakan anjing itu mirip seekor anak babi.”
“Istriku
sayang, tak usahlah kau mengomel setiap aku mengatakan sesuatu. Aku hanya ingin
kau tau perasaanku sekarang pada anjing itu. Begitu lucu.”
“Mas
Bolot sayang, kalau kau bilang anjing itu seperti anak babi yang gemuk, baiklah
aku setuju. Aku jadi berpikir jika dia lewat bakal aku cincang untuk makan
keluarga. Daging babi kan enak. Haha.”
Bolot
merasakan sensasi luar biasa ketika berusaha merubah rasa benci menjadi rasa
sayang, sama seperti dulu selalu benci ketika diomeli gadis cerewet yang
akhirnya jadi istrinya. Bolot berusaha keras, menutup rasa benci dengan
memperhatikan Cendana lewat. Bahkan pernah sekali Bolot meminum teh lengkap
dengan ampas daun kering karena terlalu memperhatikan anjing gemuk itu. Dan ketika
tak ada kerja serabutan, beberapa kali Bolot mulai diam-diam meletakkan tangga
di pinggir tembok rumah megah Pak Novanto untuk memperhatikan anjing itu. Ia
merasakan kehangatan Pak Novanto ketika memberi Cendana makan, mengusap-usap,
lalu mengajaknya berbicara. Ia melihat ekor yang mengibas sana-sini adalah
tanpa bahagia. Ia tau ketika sepi Cendana melolong untuk mencari perhatian Pak
Novanto, dan Pak Novanto datang mengajaknya bermain. Ia sudah mengamati serinci
itu dan tersenyum melihatnya.
Bolot
mengingat semua petuah kakek tua yang ditemuinya. Ia sadar orang itu bukan
orang sembarangan. Orang suci, pasti. Kesengsaraan hidupnya mulai berangsur
membaik. Ia mulai suka memandang positif terhadap apapun. Bahkan ketika
akhir-akhir ini kurang mendapatkan penghasilan, ia tak pernah merajuk pada
nasib. Tapi ada satu yang mengganggu di pikiran, dimana anak-anak mulai
merengek ketika ingin makan daging dan Bolot tak pernah punya uang. Bolot tak
pernah mengeluh ketika tak ada uang untuk membuat teh, tapi keluhan anak-anak
yang Bolot sayangi membuatnya bingung harus bagaimana.
Ditelisik
ulang petuah dari orang suci itu, dan didapatkan kesimpulan sederhana dari
pikiran bolot. Ia ingat ketika matanya bertatapan dengan Cendana, ia bisa
melihat kebahagiaan yang berkaca-kaca. Dan Bolot, tepat di sepertiga malam,
sholat malam lengkap dengan doa, seperti anjuran kakek tua untuk berdoa untuk
kebaikan sesuatu yang pernah kita benci. Doa itu diucapkannya berkali-kali,
dengan khusyuk, mungkin doa terkhusyuknya seumur hidup hingga akhirnya ia
tertidur di sebuah sajadah.
***
Di
pagi hari ia terbangun, ia bisa mencium segarnya rerumputan dengan begitu
tajam. Ia berusaha bangun namun begitu sulit dua kakinya menopang tubuhnya. Ia
mencoba merangkak, mengelilingi taman luas itu dan akhirnya sadar ia tak
memakai baju. Bolot terkejut bukan kepalang, tubuhnya sudah tumbuh bulu begitu
lebat. Suara kejutannya pun tak terdengar seperti biasanya, jelas sebuah
lolongan, persis yang Cendana punya.
Pak
Novanto tak lama keluar dari pintu besar rumahnya, dengan semangkuk besar
daging cincang yang tak pernah Bolot tau apa itu. Bolot kebingungan, makan, dan
mencerna pikirannya sejenak. Ia mulai merasa gembira, meloncat kesana-kemari
dan melolong berterima kasih atas makanan paling enak di dunia itu.
Berhari-hari
Bolot mulai merasakan bagaimana punya badan yang gemuk karena makanan yang
semahal makanan sebulan lebih keluarga miskinnya dulu. Ia juga jarang diomeli
seseorang seperti mulut istrinya, malah disayang-sayang layaknya anak kecil
oleh Pak Novanto. Beberapa hari sekalipun, setiap sorenya, ia dibawa
jalan-jalan melalui rumah reotnya dulu. Terbayang jelas gambaran kursi kosong
yang dulu dipakainya untuk minum teh dan melamunkan hal-hal tak pasti. Setiap
harinya pun, sekarang, tak lupa Bolot mengucap hamdalah begitu tulus di
hatinya.
Suatu
ketika pintu gerbang lupa dikunci dan Pak Novanto pergi bekerja, Bolot ingin
mengenang kehidupannya yang dulu. Ia mulai rindu keluarganya, yang
ditinggalkannya dulu karena ia tak mampu melihat keluarga yang disayanginya
terus kelaparan. Tepat di muka rumah reotnya, pintu tak tertutup, dan rasa
penasaran membawanya masuk. Ia terlampau bahagia melihat Yem yang sedang
memotongi tempe dan memanggilnya. Yem pun memandanginya dengan raut wajah
senang.
Mulai hari itu bertempelan poster kehilangan
bergambar Cendana di tiap tiang listrik di kampung itu dan sekitarnya. Tak ada
yang tau, bahwa sebenarnya Cendana atau Bolot, ditangkap oleh istrinya dan
dicincang, untuk dijadikan makanan istimewa pada ketiga anaknya dulu yang tak
pernah makan daging.
0 komentar