CERPEN AMATIRAN - PENARI YANG MELAHAP JIWA PARA KORUPTOR
21.04
Penari
yang Melahap Jiwa Para Koruptor
Oleh Reza Pahlevi Wirananta
Apakah aku harus
merelakan apa yang sudah aku usahakan? Apa aku akan mengecewakan kakek di alam
kubur? Apakah aku akan mendapat karma setelah mengabaikan perlindungan kakekku?
Pikiranku dibuat kacau oleh tarian indah itu. Lalu setan tiba-tiba berbisik: tak
usah kau khawatirkan, jimat itu hanya untuk membuatmu jadi pak lurah. Uangmu
sudah banyak diisi oleh pejabat bejat itu. Toh, kenikmatan ini sudah menjadi
legenda di dunia hiburan malam.
***
Kampung
kami terkenal mistis, banyak hal klenik dijadikan jual beli disini. Baik pelet,
santet, meramal masa depan, jimat penglaris maupun jimat agar terpilih menjadi
pejabat. Banyak orang dari luar kota singgah sejenak di kampung kami. Bahkan
beberapa pebisnis luar negeri menyempatkan diri kesini hanya untuk mengamankan
usahanya. Dunia mistis kami mampu bersaing. Bukan hanya dari daerah lain,
bahkan konon dukun voodoo sempat menyerang daerah kami karena ingin adu kuasa.
Lokasinya
yang terdapat di ujung gunung dan ditutupi pepohonan rindang membuat media buta
tuli akan bisnis bawah tanah kampung kami. Sempat beberapa kali orang kampung
lain bermasalah dan ingin melambungkan dosa kami, dalam sekejap mereka
terbungkam oleh kelihaian ilmu kami. Kabar mereka lenyap. Ada yang umurnya
rontok karena sakit, ada juga yang meninggal sebelum niat baik itu ia tampakkan
pada kami.
Di
kampung kami berebut posisi menjadi lurah menjadi suatu hal yang bergengsi.
Meski mereka mempunyai jimat penglaris, setidaknya moral menolak dan ingin
memiliki pekerjaan dari gaji yang baik. Makanya banyak dari mereka tidak
terlihat mapan, kusut layaknya dukun yang ditampilkan dalam film-film. Meski
beberapa menyimpan beberapa istri untuk kebutuhan birahinya. Dari semua yang
ada, aku terpilih jadi lurah dengan bantuan jimat dari Dewo Nogo (nama orang, sekaligus
kakek yang dulu sangat memanjakanku), seorang almarhum dukun yang dulu pernah
menjadi dukun dengan kesaktian tertinggi dan dikagumi dukun lainnya. Serangan
rayuan wanita maupun santet tak mampu menyentuhku, seakan dilindungi oleh jin
menyerupai tembok raksasa yang kokoh.
Empat
tahun lebih aku menjadi lurah di kampung mistis ini. Bisa dibilang banyak yang
mendukung untuk menetapkan jabatanku. Beberapa bulan aku menjadi lurah, aku
yang lulusan kuliah di perguruan tinggi setidaknya memiliki pengetahuan yang
duniawi yang lebih baik dari warga sini. Aku membuat sebuah program yang
membuat warga disini bernafas lega karena pekerjaan tetap: Hiburan malam dengan
penari dan wanita panggilan di dalamnya. Meski dulu banyak pro kontra, tetapi
menelusupkan bisnis gelap di kampung penuh keharaman mampu dijadikan alasan
untuk membuat mereka paham.
Sudah banyak pejabat mampir karena bibir mesum
menyebarkan isu kampung kami di berbagai kantor. Ditambah gadis gunung yang
terkenal kecantikan alaminya, yang menjadi penari striptis di daerah dinginnya
pegunungan menjadi daya tarik sendiri bagi penggila seksual. Mereka secepat
kilat bergantian datang memenuhi kamar untuk melepaskan hasrat. Uang dari
pejabat yang rata gemuk sudah menggemukkan isi kantungku meski tak pernah aku
memintanya. Seringkali aku dibisiki kalimat yang sama, agar jangan sampai nama
mereka nampak di media dan aku menjamin dosa itu.
Nafsu
yang tak pernah layu membuat mereka hafal dan seseorang menyebarkan isu
peringkat kenikmatan tarian gadis kampung disini. Diantara mereka terdapat
Sridewi di puncak klasemen. Ratu dari semua penari kampung mistis. Isu berkata
bahwa lekuk tubuh saat menari sangat sempurna. Posisi dan ukuran setiap bagian
tubuhnya seperti diciptakan Tuhan untuk memanjakan lelaki berhidung belang.
Bibirnya tipis manja dan merah muda. Suaranya yang serak menjelma anak panah
yang bergerak masuk lewat lubang telinga dan tepat mengenai hati yang melihat.
Matanya begitu indah, terpancar aura polos dan nakal di waktu yang sama. Dengan
memandangnya menari saja sudah dibuat bahagia. Apalagi memeluknya, terbaring,
lalu menikmati tariannya?
***
Sudah
dua belas kali aku mengantar orang untuk dipuaskan. Salah satunya Shihab, tokoh
yang sangat disanjung di negeri ini. Beliau menemuiku secara pribadi dan
memenuhi kantung uangku sampai tumpah. Karena kabar Sridewi yang sangat
mengagumkan, para petinggi berganti orang mampir dan tak terlihat lagi. Aku
terheran kenapa mereka tak kembali lagi. Mungkinkah sesuatu terjadi? Mungkinkah
Sridewi tak seindah cerita orang dan mereka kecewa? Karena begitu penasaran aku
mencoba menanyakan langsung pada Indah, si nomer dua di daftar penari paling
memuaskan.
“Aku
memang iri dengan nasib baik Sridewi. Tapi aku mendengar desas desus : Konon
katanya tarian Sridewi begitu memuaskan, melebihi wanita yang ada di negeri
ini. Dan mereka yang pernah dilayani, sekarang sedang kebingungan. Mereka
keliling tempat hiburan sampai ke luar negeri untuk menemukan hal yang lebih
nikmat dari Sridewi.” Ucapannya layaknya paksaan agar aku menatap Sridewi dan
menilai.
Kabar
kenikmatan Sridewi masih saja terdengar nyaring di kalangan pejabat yang
menemuiku. Rasa penasaranku mendidih. Cerita akan tubuhnya membuat tegang
gairah. Setiap kali terbayang aku harus mengatur dan memarahi diri agar tidak
seperti kucing kampung minta kawin. Seringkali membaca koran membuat libidoku
tenang. Mataku menyalak melihat kabar hari ini bak petir menyambar. Dalam
sebuah kolom tertulis “Shihab, Pemimpin Front yang Dikabarkan Hilang Ditemukan
Amnesia di Kota X.” Dalam pagragraf itu aku menarik kesimpulan: Shihab terlihat
lupa akan rumah, keluarga maupun sekitarnya. Ia juga terlihat kurus lemah.
Pandangannya kosong, diam tak mau mengucapkan sepatah kata. Setelah
dikonfirmasi beberapa pengawal yang pernah mengantarkan beliau enggan pulang
sehabis bercinta dengan seorang gadis di suatu daerah kecil. Kabar sore yang
membuatku terbelalak. Rumor akan Sridewi ternyata terbukti oleh media. Tak
kusangka kenikmatan itu mampu membuat seseorang kehilangan akalnya.
***
Akhirnya
tepat malam jumat aku menemui Sridewi seperti yang ia pernah janjikan. Ia
memberikan perlakuan cuma cuma karena merasa hutang budi. Ia berjanji akan
menyajikan tarian paling sedapnya, khusus untukku sendiri. Mengingat kenikmatan
yang melegenda itu, aku mulai merendahkan diri. Aku memasuki kamar ragu-ragu,
takut akan kewalahan dan kehilangan martabatku sebagai pria dan lurah
terhormat.
Sebelum
menikmati tarian khusus yang diberikan Sridewi tubuhku terasa panas. Jimat ini
sesekali membuat tubuhku rontok, jatuh sakit. Efek samping jimat yang
melindungiku dari godaan rayuan wanita, karena kakek pernah bilang wanita bisa
menjatuhkan harga dirimu. Aku buang jauh-jauh cincin kakek agar tak jin raksasa
itu tidak mengganggu aku bercinta, apalagi ambil peran menikmati Sridewi.
Sudah
berlangsung dua puluh menit tarian di depan mataku membuatku mabuk kepayang.
Semerbak harum tubuh memenuhi udara kamar. Tatapannya itu membuatku tenggelam
dihisap kasur empuk. Sepasang bola mata yang tak pernah ada wanita memilikinya
ditambah lekuk tarian yang begitu menggoda bak tari perut di timur tengah. Rasanya
ingin merobek dada kiri untuk memberikan hatiku langsung padanya. Ya, hati yang
sebenarnya. Tarian Sridewi begitu berharga, aku juga yakin wanita manapun tak
mampu mengalahkannya.
Acara
puncak dimulai hampir tepat tengah malam, saat udara dingin menjadi pelengkap
kenikmatan pria dan wanita di atas ranjang. Dimulai tangannya dengan cincin
emas merayap halus di pipi. Aku memeluknya penuh cinta, memberikan perlakuan
teristimewaku padanya. Semua yang ada diwajah habis dalam kecupan bibir
lembutnya. Sampai percumbuan yang intens. Ia membuka mulut, akupun pasrah
mengikuti sang ratu. Beberapa detik langsung terasa sesuatu yang aneh.
Tiba-tiba ada yang tertarik dari tubuhku. Seketika aku terkulai di ranjang.
Hanya Sridewi yang samar dan warna hitam yang ditangkap mataku. Tubuhku tak mau
bergerak se sentipun. Akalku seakan tumpul tak kuat mencari tahu apa yang
terjadi. Sesaat sebelum aku hilang diri, suasana begitu sepi. Suara sayup masih
terdengar meskipun secuil. Sridewi mencium cincinnya, berkata pada dirinya:
mati sudah pak lurah yang dulu aku hormati.
***
0 komentar