Cerpen Amatiran - Bayanganmu Berbicara melalui Cincin Berlian

00.49


BAYANGANMU BERBICARA MELALUI CINCIN BERLIAN
Cerpen Oleh Reza Pahlevi Wirananta

            Sugiono melamunkan kejadian yang pernah menimpanya. Kejadian itu begitu tragis baginya. Bahkan setiap malam kejadian itu menjelma mimpi buruk, menyiksanya, dan akhirnya terbangun berkucuran keringat. Pasti meneteskan air mata ketika ia terbangun. Ia tak mampu mengumpati mimpinya itu, karena mimpi itu juga menjadi sejarah cinta baginya. Ia selalu menganggapnya sebagai sebuah neraka, juga cobaan cinta yang menurutnya paling berat yang pernah ada di bumi.
            Sugiono tak lagi menulis puisi. Sebagai seorang penyair, dengan upah yang tak pernah pasti, ia rela meninggalkan semua keindahan kata-kata itu. Ia tak lagi mengirimkan sajak-sajaknya pada surat kabar maupun perlombaan. Bahkan surat kabar pernah memintanya mengisi kolom puisi dengan bayaran besar, ia malah membakar suratnya hanya untuk memancing api ketika membakar sampah di belakang rumah. Bukan mencari sebuah pekerjaan yang lebih layak, ia memilih menjadi seorang yang berdiam diri di rumah. Sekarang merenung adalah pekerjaan yang dilakukannya sepenuh hati, bahkan perasaan yang dituangkan melebihi ketika ia menulis puisi.
Tak hanya diam merenung. Sugiono memiliki sebuah cincin berbahan perak dengan berlian di tengahnya yang tak begitu besar. Setiap pagi, siang, malam dia selalu menatap cincin itu. Ia sesekali keluar. Bukan untuk bertemu teman atau orang-orang baru. Ia selalu memasang wajah malas ketika diajak berbicara seseorang, dengan jawaban yang tak lebih dari dua kata. Sugiono keluar hanya untuk membeli sebuah bahan kain yang begitu besar. Dipotongnya dengan sabar, hingga berukuran sekitar tiga puluh kali tiga puluh senti. Dikumpulkan dan disimpan di tempat paling  bersih dan terhindar dari debu dan kotoran.
Setiap lembar tersebut, diambil setiap pagi ketika Sugiono baru terbangun dari mimpi buruknya itu. Diambilnya sebuah mangkuk besar, diisi air hangat dan bunga-bunga yang berada di taman indahnya. Ia rendam kain itu di dalam mangkuk lalu mengusap dan membersihkan cincin berlian kesayangan. Mulutnya berucap-ucap, komat-kamit, seperti sebuah mantra ketika proses pengusapan itu berlangsung. Mantra dan kain yang baru setiap harinya. Mantra yang hanya dia yang bisa membuat. Mantra berisi kata-kata puitis, penuh cinta, dan mungkin jika ada perempuan yang mendengarnya pasti bakal luluh dan meminta Sugiono menikahinya. Mantra paling puitis itu adalah tempat dimana semua puisinya tumpah, berisi semua keindahan tentang perempuan yang paling disayangnya. Tentang mata yang paling indah, kulit yang begitu halus, tutur kata yang paling lembut dan menenangkan, dan lain sebagainya.
Ketika mengusap ia lebih khusyuk dari ibadah yang pernah ia lakukan seumur hidupnya. Ia sangat percaya bahwa cincin berlian ini merupakan peninggalan Tuhan agar dia dan perempuan itu selalu terhubung. Pernah sekali ketika ia baru berucap mantra, ada tetangga yang mengetuk pintu. Ketukannya pun tak begitu keras. Akhirnya Sugiono pun beranjak dari tempat mengusap dan membuka pintu. Tetangga yang hanya meminta sedikit tali rafiah, diambilkannya namun dilingkarkannya tali rafiah di leher tetangganya. Tak peduli sedang banyak orang berlalu lalang melewati rumahnya. “Tak usah sekali lagi kau mengganggu pagiku yang tenang ini.” ucapnya dengan nada membentak. Dan tetangga itu pun lari kocar-kacir ke rumahnya sendiri. Mulai hari itu, tak pernah satu pun orang berani mengetuk pintu Sugiono. Tak hanya pagi, siang, sore, dan malam pun tak ada yang mau melihatnya mengamuk lagi.
***
Sudah setahun setengah Sugiono yang dikenal ramah berubah menjadi seorang penyair pemurung. Tubuhnya jadi kurus tak karuan, hanya makan dari sisa-sisa yang ditemukannya di tempat sampah dekat rumah makan ketika pulang dari berbelanja kain. Orang-orang sudah menganggapnya tak waras hingga tak satupun orang, tetangga maupun kenalan, mencoba berbicara dengannya.
Suatu pagi ketika ia terbangun dan berkeringat seperti biasanya, ia membuka gorden jendela. Dilihatnya langit pagi yang kekuningan, begitu cerah dan tenang, dengan formasi awan yang enak dipandang. Terlintas sebuah kenangan ketika ia dan istrinya berjalan-jalan di sebuah taman. Tergambar jelas sepotong bibir perempuan paling indah yang pernah dilihatnya. Penuh cerita dan canda. Ia pun terus mengingat semua kenangan di hari terakhir istrinya, dan ketika proses pengusapan berlian terbentuklah sebuah mantra yang begitu indah. Proses pengusapan hari ini pun seperti paling khusyuk dari yang pernah ia lakukan.
“Terima kasih Tuhan atas kenangan ini.” Ucapnya ketika selesai mengusap cincin.
Sugiono duduk di sebuah sofa untuk menatap cincin dan merenung kembali. Karena hari ini dia tiba-tiba teringat semua kenangan manis di hari terakhir istrinya, ia menatap cincin itu dengan mengingat kejadian lain di hari itu. Teringat sofa yang didudukinya merupakan sofa ketika istrinya bersandar ketika pulang dari taman. Ia mengingat detail-detail kejadian. Raut wajah dan setiap kata yang diucapkan mereka berdua. Bahkan ia mengingat bahwa di atas meja tamu tersebut ada sebuah cicak yang gemuk.
Kejadian yang diingatnya begitu spesial dan begitu pedih. Ia bercerita kepada istrinya bahwa ia mempunyai sebuah surat yang begitu istimewa. Ia perlihatkan surat itu kepada istrinya, surat yang berwarna putih seperti surat-surat biasa lain. Ketika dibuka di depan matanya, perempuan itu tersenyum haru. Surat itu berisi sebuah pengumuman bahwa buku kumpulan puisi yang ia buat mendapatkan sebuah penghargaan besar. Di alinea terakhir surat itu tertulis bahwa ia mendapatkan sejumlah hadiah yang tak kecil. Sugiono dengan lantang menjanjikan bakal memberikan sebuah cincin yang diimpikan perempuan itu begitu lama. Cincin dengan mata berlian. Dianggap sebagai cincin pernikahan karena dulu Sugiono tak memiliki uang ketika meminangnya. Sang istri pun lantas memeluk dan mencium pipi Sugiono. Dan tak lama terjadi sebuah hubungan suami-istri yang begitu bahagia, tepat di atas sofa merah yang didudukinya kini.
Sore di hari terakhir itu Sugiono harus bergegas ke stasiun, menaiki kereta menuju ibu kota untuk menghadiri acara penghargaan. Acara itu berlangsung malam hari, dan Sugiono pulang keesokan harinya. Sebelum pulang, dengan senang ia mampir sebuah toko dan memilih lama sebuah cincin paling indah diantara cincin lainnya.
Keesokan harinya turun dari angkutan kota, ia berjalan kaki dengan tersenyum di setiap langkahnya. Sugiono mengingat terakhir kali mereka bercinta sebelum ia mengambil hadiah. Sebuah percintaan paling nikmat seumur hidupnya. Dengan polosnya lalu ia berandai-andai. Membayangkan betapa bahagianya wajah perempuan itu. Ia bahkan membayangkan bagaimana ia bakal dipeluk, dicium dengan rasa asin dibibir karena air mata bahagia istrinya.
Di muka rumah, dengan sengaja Sugiono melepas sepatu pantofelnya agar tak terdengar suara ketika memasuki ruangan. Dengan bermaksud memberinya kejutan, ia membuka pintu pelan-pelan, hampir tak terdengar. Namun semua yang dibayangkannya sepanjang perjalanan sirna sekejap mata. Apa yang dilihatnya membuat jantungnya sempat berhenti sampai beberapa detik kemudian berdetak kembali. Darah. Warna kemerahan mewarnai lantai. Di ruang tamu ini ia menemukan istrinya yang terpejam. Warna kulitnya sudah pucat, dengan bercak darah mengalir halus dari leher mungil. Posisinya telentang di atas sofa tempat ia bercinta. Dan perempuan itu telentang tanpa sehelai benang satu pun. Dilihatnya seisi ruangan, bajunya terlihat compang-camping disana-sini. Leher, dada, dan beberapa bagian lain terlihat bekas bibir dari seseorang. Di perutnya yang indah itu, tertinggal tetesan putih yang sangat dikenalnya, membuatnya marah dan sedih bersamaan.
Sugiono tiba-tiba tersadar dari kenangan itu. Terlihat cahaya langit tak lagi menerangi ruang tamunya. Tak disangka hari begitu cepat berlalu. Air matanya sudah tumpah, yang menetes tak terhitung lagi banyaknya. Dilihatnya jam, sudah ditunjukan jarum hampir menyentuh angka sembilan. Sugiono menyalakan lampu lalu menatap cincin berlian itu. Ia berbicara sendirian, betapa ia mencintai istrinya itu. Ia bersumpah serapah pada Tuhan, karena mengambil perempuan yang membuat bahagia dengan cara paling tragis. Ia merasa dihina oleh yang menciptakan dirinya. Lalu beberapa detik kemudian ia bersyukur pada Tuhan karena cincin ini ia merasa masih terhubung pada istrinya yang mungkin sudah berada di surga-Nya.
Malam itu begitu sunyi, tak satupun suara kendaraan terdengar melintasi rumahnya. Ia menatap cincin itu begitu lama, hingga dalam mata berlian itu terlihat berubah. Dalam pantulan cahaya yang seharusnya membentuk wajah biasa-biasa saja dari Sugiono, pantulan itu terlihat berbeda. Terbentuk sebuah bayangan perempuan. Beberapa saat bayangan itu terbentuk jelas, seorang perempuan yang sangat dikenal, yang membuatnya tak karuan hingga kini. Istri kesayangan, yang ia janjikan bakal dicintai di dunia maupun di akhirat.
Pada mata berlian itu sudah dipastikan bahwa itu adalah istrinya. Sugiono tersenyum. Namun istrinya tak terlihat membalas senyum, malah menampakkan raut wajah kesal. Mulutnya kaku ingin mengatakan kerinduannya. Ketika sedikit terbuka, sedetik kemudian terdengar suara persis seperti istrinya yang membuat terkejut.
“Hei, Ayah, suamiku yang seorang penyair. Berhentilah bersikap gila dan menjijikan. Aku sangat tau bahwa kau sangat mencintai aku. Aku tau bahwa kau merindukanku dan belum memaafkan Tuhan bahwa aku mati dengan cara yang paling tak kau duga. Tapi dengarkanlah dan tanam ini dalam pikiran sintingmu itu, aku lebih suka disetubuhi empat preman itu daripada harus bercinta terus-terusan dengan penyair ejakulasi dini sepertimu!”
***
 Di pagi harinya, penyair pemurung itu ditemukan tewas. Setelah menahan kerinduan kepada istrinya yang begitu lama, ia akhirnya bertemu sosok perempuan itu. Tanpa proses mengusap cincin, malam itu ia membaca mantra terindahnya selama ini, puisi pamungkasnya. Ia mati dalam keadaan puitis, lengkap dengan cincin pernikahan yang ia telan dan menyangkut di tenggorokan.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images