CERPEN AMATIRAN - KAMAR SEORANG BEKAS DEMONSTRAN

06.20


Rumah sebesar ini bisa menetaskan sebuah kesunyian dan kedinginan yang begitu cepat setiap harinya. Posisi yang mungkin idaman sekali buat para pekerja yang sibuk, bisa melelehkan lelahnya di rumah ini. Dikelilingi rerimbunan pohon yang jika malam mulai larut, angin bisa menimbulkan suara angker yang bisa didengar keras dari dalam rumah. Bahkan, suara jangkrik yang bernyanyi terdengar mengganggu, karena mereka terlalu sering menganggap sawah belakang rumah kami sebagai panggung tunggalnya.
1.
Melihat bagian tubuhnya yang berotot selalu menyenangkan buatku, termasuk tangannya. Tangan seperti seorang pekerja keras, seorang yang bertanggung jawab akan keluarganya. Malam itu seperti beberapa malam sebelumnya. Tangan itu bergerak kesana kemari, menyentuh pipiku dan menimbulkan suara lantang mengalahkan suara jangkrik. Aku merasakan emosi yang kuat tumpah. Pipi yang memerah memar, dicumbu hantaman berkali-kali. Pipiku merasakan panas yang membara, dingin malam tak berdaya menguap oleh panasnya.
            Matanya menyala buas siap memburu mangsa yang tak berdaya. Suaranya yang lantang membelah area persawahan, mungkin terdengar sampai ke desa sebelah. Sayangnya, suara yang keluar tak semerdu suara jangkrik. Hanya kata-kata kotor yang tak seharusnya dilancarkan suami kepada istri mudanya: Anjing! Bajingan! Pelacur! Anak haram aktivis!
2.
Beberapa kali telepon rumah berdering memanggil, tak mampu mengalihkan emosiku yang memuncak. Tak pernah ada niat membangun rumah besar di pedesaan untuk meluapkan emosi seperti ini. Namun, hari itu semua kebusukannya mekar. Aromanya begitu menyesakkan dada.
            Ia terkulai tak berdaya, semua otot tubuhnya seakan melemas. Ia hanya memeluk bantal putih, diatas ranjang tempat kita sering bercinta. Suaraku tak menemui batasnya lagi. Umpatan terkasar sekalipun berceceran di kamar ini. Dia menelan semua mentah-mentah, hanya membisu. Namun, dibalik lekuk tubuhnya yang sudah sengsara, raut wajahnya tak sedetik pun menampakkan penyesalan. Bajingan memang! Pelacur itu sudah melenyapkan uangku dalam sekejap mata, hanya untuk hura-hura dengan teman sosialitanya.
1.
 Kata-kata yang keluar dari mulut kasarnya terdengar begitu tulus mengutuk. Telingaku mungkin sudah terlatih ditusuk tajamnya cacian penuh kebencian itu. Pria setengah baya itu memang selalu blak-blakan menyatakan yang ia rasakan. Rasanya tak pernah ada kata sungkan terselip dalam otaknya. Bahkan ketika dulu ia mulai mencari cara mencuri perhatianku.
            Ia dulunya seorang bujang yang sudah hidup tiga puluh tahunan lebih. Datang ke rumahku, dengan alasan sudah rindu terhadap ayahku. Duduk dengan santai seperti dirumah sendiri, dengan kopi dan rokok yang asapnya memenuhi ruangan. Mereka memang bersahabat. Aku sedikit menguping, dari balik tirai merah lorong ke ruang sebelah. Katanya, ia kenal beberapa orang di dalam pemerintahan saat itu. Beberapa orang itu dengan baik hati menawarkan sebuah jabatan sebagai tanda terima kasih kepada dia dan ayahku. Ayahku menolaknya dengan alasan tertentu, aku tak bisa mendengarnya jelas.
            Ketika sesekali menatap sofa usang tempat mereka mengobrol pandangan mata kami berpapasan. Mata itu menarik perhatianku, ternyata dia orang yang memperhatikan penampilan. Bagiku, ia seperti Ari Wibowo dengan wajah sedikit lebih ndeso.
2.
Wajah yang mulus itu mungkin selalu layak bagi umpatanku. Wajah seorang gadis ceroboh, dengan kebiasaan menghamburkan uang tanpa berpikir panjang.
            Harusnya aku sudah mengenal sikap buruknya dari pertama mengenalnya, dari cerita kawan lamaku di ruang tamu rumahnya. Dia dulunya sama seperti remaja seumurannya, nakal, namun sesekali nampak sikap bahwa ia sebenarnya begitu polos. Dengan segala keterbatasan ayahnya, yang dulu kerja sebagai karyawan pabrik, ia meminta barang mewah. Temanku bahkan mendengar isu bahwa anaknya suka memacari berbagai pria hanya untuk memeras kekayaannya. Banyak sekali omongan yang terjadi ketika berkunjung, hingga akhirnya tersadar bahwa yang kita omongkan ada dibelakang tirai merah. Ia terlihat sesekali melihat kemari, hingga aku tertarik memperhatikan. Pada pengamatan itu aku sadar mata kami berpapasan, aku penasaran dan mengajak dia ikut obrolan. Ia mengenalkan diri dengan suara manja namun manis didengar. Pada pertemuan itu aku mulai sering berkunjung untuk menikmati matanya yang sejuk. Beberapa kali mata kami bertemu, pandanganku mulai tak karuan menikmati tubuhnya yang mulai beranjak dewasa.
1.
Pria yang usianya begitu jauh itu bercerita banyak ketika mulai sering berkunjung. Ia mengenalkanku pada perjuangannya dulu, dengan ayahku ketika demonstrasi besar negeri ini terjadi. Ia sering memberiku uang ketika aku mengeluh ingin sesuatu, namun aku mulai tertarik pada perhatiannya. Perhatian yang mendengar derita sosial, persis keterbatasan yang ku alami.
2.
Ia begitu tertarik ketika aku bercerita tentang masa muda ayahnya, pada masa perjuangan kami ketika muda. Aku berusaha memancing perhatiannya, namun tak murah. Aku harus membayar untuk mendapat beberapa perhatiannya. Seperti menabung agar pernuh, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Akhirnya kedekatan kami begitu luar biasa, hingga ia memutuskan semua pacarnya dan memilih menjadi istriku. Aku memilikinya sepenuhnya, baik matanya yang sejuk, wajahnya yang manis, suaranya yang menyenangkan, dan tubuhnya yang menggairahkan. Aku bersyukur dulu belajar politik untuk menangani suatu masalah, untung dia tak seperti ayahnya yang mahir membaca keadaan.
***
1.
Tangannya yang besar dan keras itu berhenti menghujani pipiku, bergetar menahan emosi. Pandangannya teralihkan ketika ada suara tak begitu keras namun dekat melintas. Terlihat di pintu yang terbuka: Roi, seorang pembantu kami.
2.
Roi, pembantu telaten kami tiba-tiba melintas. Aku menghentikan emosiku, rasanya begitu tersiksa ketika meluap tertahan di ubun-ubun. Meski sekitar kampung tau kerusuhanku, aku tak suka melakukannya di depan orang.
1.
Aku suka ketika tangan itu berhenti tepat di pipiku, seperti sedang membelai namun bergetar tertahan marah. Jarang sekali terjadi seperti ini, ketika ia mulai sibuk bekerja dan aku tenggelam butuh perhatiannya. Aku sontak memegang tangannya, tak sadar menggerakkan, seperti mengusap-usap pipiku yang halus. Mengingatkanku pada pertama kali pipiku dibelai halus, lalu dicumbu dengan begitu romantis. Aku menatap mata yang selalu menarik perhatianku itu, aku menarik mengajak duduk di atas ranjang kami.
Pada beberapa kekerasan yang ku alami, aku selalu cinta pada mantan aktivis ini. Ia terlihat menyimpan rasa cintanya yang besar padaku, melebihi cintanya pada negara dulu. Terasa tangannya merayap pelan, mulai memelukku, mulai menghangat. Ia berbisik halus disamping telinga: “Akan ada proyek baru, nanti kita cari uang lagi ya, maaf telah kasar padamu. Saat ini, aku tiba tiba rindu tubuh sempurna buatan Garut ini.”
2.
Roi seperti diperintah Tuhan agar aku merasakan keajaiban. Ia melintas, emosiku langsung berubah, tanganku tepat berhenti menempel di pipi halus yang kurindukan. Tatapannya yang sejuk seakan berucap manja, membuat gairahku naik. Mungkin jika uang bukan kunci dari kehidupan sehari-hari, mata itu satu-satunya yang membuatku bahagia. Aku ingin memeluknya erat-erat. Berbisik maaf karena telah kasar kepadanya. Lalu aku meminta Roi menutup pintu kamar kami.
3.
Selalu terjadi kejadian yang meramaikan malam seperti ini. Aku melintas seolah tak disengaja, padahal aku memperkirakan detik-detik tamparan itu akan berhenti. Tepat ketika tangan tuan memegang pipi nona yang halus. Aku menyebut usaha ini sebagai politik gairah seusai berdarah. Usaha ini tak mudah, bahkan bisa dikatakan keajaiban bagi yang menjadi korbannya. Aku tau tuan dan nona sebenarnya saling mengasihi begitu dalamnya. Dan akhirnya pertengkaran ini berakhir, dan situasi berubah terbalik. Mereka melupakan yang barusan terjadi dan memulai kegiatan baru yang romantis: bercinta. Suara yang ditimbulkan menggema memenuhi rumah besar ini, tak kalah dari bokep yang beredar di internet.
            Bagaimanapun yang dilakukan oleh si Bedu (nama tuanku) dan ayah si Dewi sudah mengukir jasa yang besar pada masa kecilku. Ayahku dibuat menikmati hidup dengan begitu bahagianya ketika menjelang ajalnya. Kata-kata yang terakhir menetes dari tubuh tua itu: “akhirnya si otoriter itu tumbang, semoga masa depan kita gemilang. Berterima kasihlah pada pejuang dan aktivis itu, Nak.” Dengan senyum menikmati masa renta menuju ajalnya.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images