Perihal Bagian Wanita yang Enak Dipandang
Oleh Reza Pahlevi Wirananta
Di tengah malam Jampes melamun
begitu panjang seperti sebuah petapaan beberapa biksu di gunung maupun di
tengah hutan. Begitu khusyuk, sehingga nyamuk-nyamuk pun sudah bosan menghisap
darahnya dan pulang ke rumahnya dengan begitu puas dengan perut membulat.
Hingga pada suatu ketika, ia tersenyum puas. Ia mencapai sebuah kesimpulan.
Jampes menyadari ada bagian dari kekasihnya yang membuat begitu cantik,
melebihi beberapa wanita lainnya.
Jampes segera mencetak sebuah lembar
foto berukuran A4 dan ditempelkannya di tubuhku. Ia mengusap-usap tubuhku
karena tujuannya dalam perenungan sejam lebih akhirnya tercapai. Aku memilih
berdiam, merasa tak sopan mengganggu tuanku sedang berbunga-bunga. “Begitu
beruntung aku memiliki sepasang mata yang paling indah se Kecamatan.” Sambil
memandangi foto, ia meluapkannya dengan menciumi foto itu. Kalau boleh menduga,
bagian yang diciumnya adalah mata dari Evi, kekasihnya yang menjadi cinta
pertama baginya.
Jampes mulai sering memandangi mata
Evi ketika gadis mungil itu bermain ke rumahnya. Benih-benih cinta tercium
harum seisi ruangan. Aku hanya di pojokan, terdiam menikmati pemandangan
seorang tuan yang mulai beranjak dewasa begitu lucu. Mata Evi mampu
mengeluarkan mantra yang membuat Jampes semakin terperosok dalam godaan setan.
Kegiatan-kegiatan sepasang remaja mulai tak karuan terjadi. Jampes memulai
ciuman pertamanya di ruangan ini. Semakin sering waktu luang, semakin sering
ciuman itu terjadi. Hingga terjadilah hubungan dimana tangannya menjelajah
nakal, nafas keduanya tersengal-sengal, dan keringat bercucuran. Begitu berulang
sampai berbulan-bulan. Aku melihatnya dengan jelas, ketika hubungan itu
terjadi, hal yang paling nikmat buat Jampes adalah menciumi kedua mata yang
paling indah se Kecamatan itu.
Kebahagiaan yang telah didapatkan
Jampes membuatnya selalu tersenyum ketika beranjak dari ruangan ini, berpakaian
rapi, dan menuju ke sekolah dengan begitu tampannya. Dari beberapa barang yang
ia berikan kepadaku, aku dapat menyimpulkan sepasang mata Evi mampu membuatnya
menjadi seseorang yang disegani di sekolahnya. Aku ikut senang dengan
pencapaian tuanku ini. Banyak lembaran kertas menunjukkan ia sering menjadi
bintang di kelasnya.
Justru hanya karena sepasang mata ia
menuju sebuah kehampaan besar ketika Evi seringkali tak sependapat dengan
tuanku. Memang sering terjadi perdebatan dan umpatan akhir-akhir ini. Jampes
runtuh betul semangatnya ketika perpisahan dengan cinta pertama akhirnya
benar-benar terjadi. Ia mulai sering melamun. Tak hanya prestasi turun,
berangkat menuju sekolah saja sudah tak diinginkannya. Ia lebih memilih
memandangi foto Evi dan menciumi bagian matanya. Terkadang ia sering memukul
kencang tubuhku dengan emosi tak karuan. Kondisi labil remaja yang kehilangan
pacarnya nampak begitu gila disini. Karena memang hanya bisa diam saja, aku
menerimanya dengan ikut berduka atas putusnya cinta pertama tuan.
***
Jampes
telah menjadi pria yang benar-benar gagal hingga kematian kedua orang tuanya
dalam kecelakaan. Setelah sekolah sengaja menendangnya karena tak taat aturan,
ia hanya bisa bergantung pada harta kedua orang tuanya yang memang pekerja. Luntang-lantung,
tak mau ikut berkumpul pada masyarakat sekitar rumah dan lebih memilih berdiam
diri sekedar tiduran atau membaca apa saja yang dia bisa baca. Tampilannya tak
lebih baik dari pengamen jalanan. Ketika banyak isu yang mencibir penampilan
itu, ia dapat dengan teguh pada pendirian kegembelannya. Hingga kedua orang
tuanya meninggal, mau orang terdekat maupun orang yang menjauhinya bakal
terketuk juga hatinya untuk berkunjung dan berbela sungkawa. Yang aneh dari
sebuah pengajian kematian orang, keluarga yang biasanya menangis terharu malah
tak nampak di raut wajahnya. Jampes tetap pada tampilannya yang tak terawat.
Dan ketika acara dimulai ia malah memilih berdiam di ruangan ini, bersandar
pada tubuhku, dan tak berduka. Toh mungkin apa yang harus ia tangisi, semua
kesedihan bakal terus hadir semenjak semangat hidupnya, Evi, meninggalkannya.
“Aku harusnya senang, karena dapat warisan yang lumayan banyak.”
Bagaimanapun orang yang selalu dekat
dan baik kepada kita, ketika pergi akan menimbulkan kesedihan meskipun berkeras
hati menutupinya. Pada suatu malam ia tiba-tiba berubah layaknya orang yang
begitu dalam sayangnya kepada keluarganya. Air yang disimpan sepasang matanya
tumpah dahsyat dan melukai kantung matanya hingga lebam kemerahan. Ia kembali
pada kebiasaan lamanya, memukuli tubuhku hingga amarahnya terpuaskan. Tangan
dan kepalanya bocor, air kemerahan keluar menetes hingga mengotori tubuhku. Sama
seperti ketika berpisah dengan cinta pertamanya, setelah puas menyiksa ia
mengusap-usap tubuhku seperti seseorang yang sangat berharga. Meski hanya
terdiam, aku merasakan kesedihannya pada cerita-cerita berharga yang ia
ungkapkan tentang ayah dan ibunya. Malam yang panjang itu berakhir ketika ia
tertidur duduk tersandar pada tubuhku. Mungkin arwah ayah dan ibunya sudah
selesai memberikan pelajaran penting pada pikirannya dan kini mereka terbang ke
surga.
Alangkah terharunya ketika Jampes
terbangun ia sudah berubah menjadi seseorang yang baru. Sesaat aku melihatnya
ia memandangi foto Evi cukup lama, merenung, dan akhirnya tersenyum. Senyum
yang begitu menyenangkan, sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. “Akhirnya
aku tau apa yang harus dilakukan.” Kata Jampes.
Entah setan yang ada di tubuhnya benar-benar
pergi atau ada hikmah yang diturunkan Tuhan padanya, akhirnya ia kembali
menjadi seorang Jampes yang sangat bersemangat. Ia mulai merapikan
penampilannya. Rambutnya yang mulai gimbal ia cukur seperti seorang artis
korea. Baunya yang merusak hidung mulai hilang dan berubah menjadi harum
mewangi menggoda lawan jenis. Akhirnya ia mulai keluar rumah lagi,
bersosialisasi, dan mulai menjadi orang yang disenangi orang-orang
disekitarnya.
Jampes merupakan seseorang yang
tidak lulus Sekolah Menengah Atas. Namun, karena bekerja begitu kerasnya
mencari pekerjaan, ia diterima menjadi seorang pelayan restoran yang giat.
Hampir setiap hari tak pernah aku melihatnya bangun melebihi jam 5. Begitu jauh
ketika dahulu baru tengah hari ketika panas-panasnya. Meski hanya bisa diam dan
tak pernah diajaknya berbicara kembali, aku senang adanya perubahan yang
berarti itu.
“Aku akhirnya dapat membawa gadis
baru kesini. Ia seorang pelanggan yang aku ajak bercanda ketika aku menulis
pesanan. Dia begitu cantik, tak sepertimu yang memiliki mata, ia memiliki pipi
yang tembem dan hidung yang mungil. Itu yang membuatnya enak dipandang.” Suatu
ketika Jampes berbicara pada foto Evi yang terpampang di tubuhku. Aku hanya
tersenyum mendengarkan. Perpisahan Evi akhirnya bisa ia terima dengan baik.
Jampes hampir-hampir saja mengalami
putus asa yang tak berujung. Namun, dengan adanya keajaiban hari itu, akhirnya
ia bisa menjadi seseorang yang lebih bersemangat. Aku akhirnya tau bukan hikmah
Tuhan yang terjadi, namun setan yang berbelas hati membawanya menuju jalur
kehidupan yang lebih baik. Bisa dilihat dari semua wanita yang ia ajak kemari
pasti ia tiduri. Bagaimanapun, aku bersyukur atas itu.
Dari beberapa wanita yang ia ajak
kencan ke ruang ini, bisa dilihat semuanya merupakan wanita yang cantik. Entah
memang bakat atau apa, ia bisa mendapatkan semua wanita itu dan menidurinya.
Dari semua wanita itu, semuanya memiliki bagian masing-masing yang enak
dipandang. Linda, wanita pertama yang menarik hati Jampes setelah Evi, memiliki
pipi seperti bakpao dan hidung yang mungil. Begitu manis dilihat. Lalu Indah,
ia memiliki sepotong bibir paling menawan yang pernah aku lihat. Lalu ada yang
memiliki telinga, jari yang lentik, bahkan buah dada yang padat.
Jampes berubah menjadi begitu
perhatian kepadaku setelah mengenal wanita-wanita itu. Ketika pertama kali aku
dibawa orang tuanya untuk menemaninya di ruangan ini, aku melihat kebahagiaan
yang terpancar. Katanya, aku begitu bagus dan kokoh. Sejak saat itu aku
dipercaya dan diberi makan beberapa barang yang juga berharga buatnya. Meski
ketika berpisah dengan Evi aku hampir tak diberi makan sama sekali, ketika
mengenal Linda dan delapan gadis lainnya akhirnya aku diberi makanan yang ia
juga suka: daging. Meski aku bisu aku ingin mengucapkan terima kasih pada
wanita-wanita itu yang membuat tuanku seperti ini.
Setelah sembilan wanita cantik
datang, bercanda-canda, merayu, berpelukan, berciuman dan seterusnya, ia
tersenyum sambil memandangiku. Ia begitu suka bagian-bagian dari wanita yang
dikencaninya. Aku terpana dan menganga ketika ia berkata: akhirnya aku akan
memiliki matamu lagi Evi.
Benarlah, bukan sebuah kebohongan
yang Jampes katakan padaku. Disana aku terdiam di pojokan ruangan. Memandangi
dan menebak-nebak apa yang akan terjadi pada wanita yang membuatnya sakit hati
begitu dalam. Evi sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan tubuh ideal yang
bisa membuat iri wanita lain. Sepasang mata itu masih saja begitu indah, bahkan
bertambah indah pada bentuk wajah dewasanya. Obrolannya begitu mengalir, tak
sedikitpun nada dendam terdengar dari Jampes. Nostalgia yang begitu romantis,
seperti sebuah cerita Romeo dan Juliet yang akhirnya bertemu lagi setelah
begitu lama.
“Aku rindu ruangan ini.” ucap Evi.
“Kau tahu, aku masih tak pernah
melihat mata yang lebih enak dipandang selain punyamu.” Dan benar saja dugaanku,
mereka meluapkan rasa rindunya pada jelajah tubuh. Nafas yang saling memburu
itu hampir terdengar seperti sebuah janji yang tak akan saling meninggalkan. Tak
lupa ia menciumi bagian terbaik dari Evi: sepasang matanya. Begitu menyenangkan
memandang mereka berdua, hingga akhirnya Evi terbaring terpejam sembari memeluk
bekas kekasihnya itu.
Saat makan untukku pun tiba. Ketika Evi sudah
melayang di dalam mimpinya, Jampes bergerak pelan-pelan seperti seekor harimau
yang tak mau mengganggu mangsanya. Nyaris tak ada suara terdengar meski aku
berada dekat disana. Tiba-tiba saja Jampes sudah membungkuk memandangi mata Evi
begitu khusyuk. Didekatkan tangannya yang membawa sebuah pisau dapur. Dalam
sekejap darah membanjiri kasur. Tusukan tepat di jantung kiri membuat Evi tak
mampu mengucapkan kata-kata terakhir. Lekas seperti biasanya, pisau itu
menari-nari dengan lihainya. Ketajamannya mampu membuat mata yang sangat
disukainya berpisah dari kepalanya. Dimasukkan ke dalam botol, diberi air dan
formalin, lalu aku menganga seperti anak kecil yang disuapi.
“Akhirnya aku memiliki mata paling
indah se Kecamatan, tidak, mata paling indah yang pernah aku lihat. Dan
sekarang masih terlihat indah ketika berkumpul dengan yang lainnya.” Ucapnya
ketika memasukkan ke dalam sebuah almari di pojokkan ruangan. Ya, aku adalah almari.
Tempat tuan Jampes menyimpan bagian-bagian wanita yang enak dipandang.
- 04.58
- 0 Comments