Di seluruh sudut desa
Karangayu telah terjadi kehebohan yang mungkin tak pernah terjadi seperti
biasanya. Desa yang tak jauh dari jalan pantai utara jawa itu mirip seperti
desa yang lainnya. Semua orang yang punya pekerjaan bekerja demi menafkahi
keluarga, yang tak punya pekerjaan merokok dan menyeruput kopi dengan santai
meski sebenarnya memikirkan ingin memiliki pekerjaan, dan anak muda kesana
kemari kelayapan dan yang berpacaran seperti biasanya. Meski tak terlalu
maju, di jaman sekarang keadaan desa telah berubah, tak seperti sepuluh tahun
yang lalu. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, hampir semua tak jauh dari
ponsel pintar dalam menjalankan segala kebutuhannya.
Omongan yang telah
menyebar dari satu mulut ke mulut lain itu begitu cepat. Tentang seorang
penyair yang pulang berdarah-darah di tengah malam. Kata ibu-ibu di media
pergunjingan tukang sayur, segala kemewahan langsung ada di rumah penyair
tersebut setelah ia menghilang sebulan lebih. Sudah paham semua bahwa menjadi
penyair hampir tak pernah bisa merasakan kemewahan. Apalagi, penyair yang lama
menghilang itu datang dengan bercahaya, seperti orang suci yang disinari
malaikat. Sudah agak lama hal berbau mistis ataupun yang diluar nalar tak
pernah terjadi atau dibicarakan. Dahulu, terkenal beberapa warung makan yang
menggunakan jin penglaris di desa itu. Namun semuanya sudah berubah dan
bersaing dengan sehat. Mungkin jin dan hal berbau mistis lainnya sudah bosan
tak dibutuhkan lagi di jaman sekarang dan memilih menjauh, mungkin ke laut
utara.
Aku pernah mendengarnya
langsung dari seorang penjual kopi di tengah malam. Ia melihatnya langsung,
penyair itu terseok-seok melewati warkop dan tak menyapa. Hingga penjual itu
menanyakan darimana ia lama tak terlihat, penyair itu dengan jawaban singkatnya:
dari antah berantah.
Jawaban macam apa itu?
Pikirku. Seorang penyair yang sekarat itu menjawab sok puitis padahal
keadaannya mengenaskan. Ditambah dengan sombongnya ia tak mau dibantu untuk
diobati lukanya, ia hanya memilih pulang dan beristirahat. Bisa jadi ia tak
ingin segala harta yang ada di saku kanan kirinya terjatuh dan diambil oleh
penjual kopi tersebut.
Aku sebenarnya tak pernah
mau percaya dengan omongan orang-orang. Di desa kami yang lokasinya jauh dari
kota besar, tak mungkin menjadi penyair langsung kaya dalam hitungan minggu.
Tapi pikiranku dibungkam ketika anakku yang berteman baik dengan Mukidi, anak
penyair itu, menunjukkan foto kemewahan di rumah sederhananya. Nampak jelas
motor Ninja baru terparkir di ruang tamunya. Ditambah segala perabotan
dan hiasan dinding yang terlihat mahal. Aku sampai bergetar memengangi ponsel
pintar anakku dan hampir jatuh karena terkejut.
Kejadian itu memberi
dampak besar pada desa ini berhari-hari meski penyair itu telah pergi lagi
entah kemana. Banyak teman dekatnya ingin tahu bagaimana ia kaya, bahkan sampai
berjam-jam bertamu untuk mengamati, namun nihil yang mereka dapatkan. Mereka
menjadi kebingungan karena jawaban khas penyairnya yang terlalu bertele-tele
dan menutup-nutupi. Banyak asumsi yang tak pernah terdengar dibicarakan
kembali. Beberapa orang menduga-duga ia menjadi babi ngepet di suatu desa,
tertangkap dan dipukuli habis-habisan. Dan terjadi lagi budaya masa lalu,
dimana orang-orang mulai mencari jimat pesugihan lagi karena iri dengan segala
kemewahan yang didapatkan oleh sang penyair. Namun yang mengganggu pikiranku
bagaimana cahaya menyinari tiap langkahnya ketika ia pulang. Mungkin mereka tak
terpikir sampai disitu.
***
Sepulang kerja aku sempatkan
menyeduh kopi di warung kopi tempat “orang suci” itu lewat. Sudah hampir dua
bulan penyair itu lewat di tengah malam dan menghebohkan desa bahkan satu kota.
Ketika kopi datang dengan uap dan aroma yang menggoda, mungkin aku berpikir
segala lelahku akan rontok seketika. Namun naas, semua kegaduhan di dalam
warung kopi itu menggangguku. Semua membicarakan penyair, penyair, dan penyair
yang sudah bosan untuk aku pikirkan. Tapi di ujung warung ada Mukidi, yang
dengan bangga bercerita, dan bertingkah seperti orang kaya baru. Tak sengaja
perhatianku pun terpancing untuk mendengarkan.
“Sebenarnya aku hanya
ingin punya Ninja karena si Sari yang kutaksir lebih tertarik pada orang
yang bermotor keren. Aku pulang hari itu dan berdebat meminta dibelikan. Bapak
langsung naik darah. Ia menamparku keras sampai pipiku merah semerahnya. Aku
sampai hampir menangis dan tanpa sadar mengancam tak mau bersekolah bila tak
ada Ninja.” Ungkapnya dengan sedikit tertawa dan sedikit menahan malu.
“Setan kau! Tak tahu malu
meminta motor pada Bapakmu yang cuma pembuat puisi.”
“Haha aku memang berdosa
waktu itu. Tapi mungkin karena itulah aku bisa yakin beberapa puisinya bisa
saja langsung didengar Tuhan. Ia hanya perlu waktu mengasingkan diri. Sama
seperti ketika ia setelah menamparku, katanya, akan aku pikirkan. Aku perlu
waktu sebulan menjauhi keramaian. Aku tanya, Bapak mau kemana? Bapak akan
mendapatkan uang dengan cepat, tentunya dengan puisi Bapak, satu-satunya yang
bisa Bapak hasilkan.”
“Puitis sekali Bapakmu, cuk!
Asu tenan! mungkin dia orang suci yang punya mukjizat puisi yang
dikabulkan Tuhan. Bapakmu gondrong dan berjenggot. Cocok sekali! Hahaha.”
***
Malam telah begitu larut,
ditandai dengan warung-warung sudah mulai tutup dan jalanan desa cuma dilewati
satu dua orang. Lampu-lampu jalan kedap-kedip dan angin malam tak karuan
dinginnya, menusuk kulit meskipun aku memakai jaket bank yang lumayan tebal. Tepat
setelah turun dari bis kota yang mengantar tepat di jalan kecamatan, di pinggir
jalan pantura. Aku harus membanting tulang begitu keras, seperti lembur, untuk
mendapatkan rezeki yang lebih. Aku begitu cemburu pada keberuntungan penyair
itu.
Mungkin kisah tentang
penyair itu begitu merasuk ke pikiranku pelan-pelan, tapi dalam. Ketika berjalan
sendirian di tengah angin malam yang dingin pun aku memikirkan puisi apa saja
yang jadi favorit penyair itu, salah satunya pasti joko pinurbo yang pernah ia
bacakan puisinya di acara kantorku dahulu.
Aku membuka ponsel pintar dan mencari joko pinurbo, ada kutipan “kurang
atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.” Dan kakiku
melangkah sendiri menuju warung kopi. Dasar orang suci!
Memang benar, ketika aku
memikirkan penyair itu, dan ada kutipan puisi tentang lemburku, aku merasakan
dia memang benar orang suci. Di warung kopi yang sama, kopinya entah kenapa
terasa begitu nikmat setelah membaca kutipan tersebut. Penjualnya sampai
kebingungan melihatku tersenyum ketika menyeruput pelan-pelan.
Di warung kopi hanya ada aku
dan penjual. Suasananya hanya sunyi. Selain motor yang lewat terakhir mungkin
begitu kosong, karena jam sudah menunjuk angka 1. Kopiku begitu nikmat jadi aku
sayang untuk menghabiskannya. Hanya diam menghibur diri dan membaca puisi-puisi
yang menarik.
Tiba-tiba ketika sudah
tak ada satupun orang atau motor melalui, orang yang aku pikirkan akhir-akhir
ini lewat. Orang berpakaian lusuh, dipenuhi banyak darah. Seorang penyair itu
terseok-seok, seperti yang dikabarkan, lewat tempat yang sama. Aku
memandanginya benar, kakinya terasa begitu ringkih dan seluruh tubuhnya tak
bertenaga. Namun mataku dibuat terbelalak. Selain darah, tampilannya yang
berjenggot dan berambut panjang disinari cahaya kemanapun ia berjalan
membuatnya seperti benar-benar orang suci. Angin pun seperti tak berhembus
terlalu dingin di sekitar orang itu.
Sekitar dua meter sebelum
melewati muka warung kopi, ia terjatuh. Aku langsung sigap berlari dan
membantunya duduk. Kuperhatikan sekitar, ia memang begitu parah. Luka seluruh
tubuhnya tak karuan, bisa dibilang sekarat. Mungkin ia kehabisan darah, karena
setiap langkahnya berupa darah yang membentuk alas kaki. Aku berteriak lantang
meminta bantuan, penjual kopi berlari menuju rumah terdekat dan meminta bantuan
dari satu rumah ke rumah lain.
Ketika banyak orang sudah
berkumpul, keadaan sudah begitu terlambat. Nyawa orang suci di desa sudah
melayang, dan hanya meninggalkan jasad yang bercahaya. Dengan aku yang
membopongnya, persis seperti lukisan orang suci berjenggot berambut panjang
yang mati di pangkuan seseorang.
Dan sejak hari itu desa
Karangayu ramai dikunjungi beberapa wisatawan. Mereka datang dari berbagai
kota, penuh rasa penasaran dengan orang suci yang dibicarakan di media sosial. Mereka
merahasiakan penyair itu punya seorang anak remaja yang sudah hidup tenang
dengan uang yang cukup sampai lulus kuliah. Penduduk desa memakamkan dengan
penuh kemewahan, tak kalah seperti wali yang lain. Yang mengganggu, bahkan
banyak yang hingga meminta sesuatu kepada makam itu.
Sebenarnya ada yang tak
mereka tahu dengan orang suci yang mereka banggakan. Penyair yang jadi
inspirasi banyak orang itu berbisik kataku pelan sebelum mati, dengan nada
meronta seperti dicabut nyawanya. Ia memberitahu bahwa sebenarnya anaknya sekali
lagi merengek. Kini ia ingin kuliah. Awalnya ia pernah menjual puisi ke seorang
waria dan memberinya uang yang lumayan. Namun kenyataan tak berjalan mulus. Ia
butuh waktu dan siksaan yang berat agar memenuhi anak semata wayangnya. Tak
seperti yang dibicarakan banyak orang, sebenarnya ia hanya pria gondrong biasa.
Ia hanya seorang budak yang disodomi delapan gay berminggu-minggu, dan
dicambuki dalam bersenggama. Ia mendapatkan uang dan pengakuan malaikat dari
kejadian yang tak pernah orang pikirkan sama sekali.
***
- 23.09
- 0 Comments